WELCOME TO COMMUNICATION (WTC) 2023

HIMIKOM


Sabtu, 9 September 2023


   Pembukaan acara Welcome to Communication 2023 diselenggarakan di International Meeting Room, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu. Acara dimulai pukul 08.10 WIB dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Ilmu Komunikasi 2023 serta para tamu undangan. Acara pembukaan dipandu oleh Muhammad Ifandi Mahendra dan Era Purwanti sebagai Master of Ceremony (MC) formal, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah oleh Rifky Noorfhadilah Andera dan Zharifah Namora Tanjung. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars HIMIKOM yang dipandu oleh Anindya Viola Azzahra sebagai dirigen, dan pembacaan doa oleh Perdi Danata. Acara dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan oleh Muhamad Ravie selaku Ketua Panitia Welcome to Communication 2023 dan Fachrul Prayoga selaku Ketua Umum HIMIKOM periode 2023. Kata sambutan dilanjutkan oleh Ibu Rasianna Br Saragih, S.Sos, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi dan Bapak Dr. Mas Agus Firmansyah, M.Si selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FISIP Universitas Bengkulu yang sekaligus membuka acara Welcome to Communication 2023. 

  Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan kegiatan kunjungan media yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Ilmu Komunikasi 2023 yang berlokasi di Stasiun TVRI Bengkulu dan Rakyat Bengkulu (TV & Koran). Seluruh mahasiswa baru Ilmu Komunikasi 2023 berangkat menuju lokasi kunjungan Media menggunakan Bus pukul 09.50 WIB dan pulang kembali ke lokasi pukul 11.30 WIB. Setelah kegiatan kunjungan media, kegiatan dilanjutkan dengan ISAMA hingga pukul 13.00 WIB. Acara dilanjutkan dengan kegiatan WTC Talk Show yang dimulai pukul 13.25 WIB. Acara WTC Talk Show tahun ini mengundang narasumber dari salah satu alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2016, Izon Ramadani. Acara WTC Talk Show berakhir pukul 14.25 WIB dan dilanjutkan dengan kegiatan debate yang dipandu oleh Aditya Anugrah. kegiatan debate mengundang 2 juri, yaitu Fhatiyyah Jannah dan Adilah Khaira Amini. Acara debate berakhir pukul 16.30 WIB dan acara Welcome to Communication 2023 hari pertama diakhiri dengan sharing session di Pelataran FISIP Universitas Bengkulu hingga pukul 17.00 WIB.


Minggu, 10 September 2023



  Agenda hari kedua diawali dengan sharing session pukul 07.55 WIB sekaligus penilaian yel–yel dari setiap kelompok di Pelataran GB II UNIB. Peserta yang hadir berjumlah 91 dari 97 peserta yang mendaftar WTC 2023. Pada pukul 08.30 WIB kegiatan Welcome to Communication 2023 dibuka dengan penampilan kreativitas kelompok mahasiswa yang berupa pentas seni oleh seluruh mahasiswa baru Ilmu Komunikasi 2023 yang diselenggarakan di Pelantaran GB II UNIB. Pada pukul 10.30 WIB mahasiswa baru diminta untuk mengganti pakaian warna sesuai dengan warna gugus yang telah ditentukan dan acara selanjutnya akan dilanjutkan dengan sosialisasi HIMIKOM. Pada Pukul 11.00 WIB dilanjutkan dengan Sosialisasi HIMIKOM oleh Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, Wakil Bendahara Umum, serta Badan, Bidang, dan Kesekretariatan yang berada di bawah naungan HIMIKOM serta pembacaan Amanat Muker. Pada pukul 13.00 WIB ISAMA dan dilanjutkan dengan membuat kliping tentang sosialisasi HIMIKOM. Mahasiswa baru Ilmu Komunikasi mengerjakan kliping dengan kreatifitas dari masing-masing gugus, pengerjaan kliping selesai pada pukul 14.40 WIB.

  Agenda selanjutnya adalah rally post yang dimulai pada pukul 15.00 WIB. Mahasiswa akan mendatangi setiap pos yang tertera pada peta yang telah dibagikan. Rally post berlokasi  di Parkiran GB II, kantin, dan area Danau Inspirasi UNIB. Rally post berlangsung kurang lebih 3 Jam dan selesai pada pukul 18.15 WIB. Setelah itu, dilanjutkan dengan ISAMA dan berganti pakaian untuk acara penutupan yaitu malam puncak Welcome to Communication 2023.

  Penutupan acara Welcome to Communication 2023 dimulai pada pukul 19.30 WIB yang dipandu oleh Muhammad Ifandi Mahendra dan Era Purwanti sebagai Master of Ceremony (MC) formal dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars HIMIKOM. Dilanjutkan kata sambutan oleh Muhamad Ravie selaku Ketua Panitia WTC 2023 dan kata sambutan oleh Fachrul Prayoga selaku Ketua Umum HIMIKOM Periode 2023 sekaligus menutup agenda WTC 2023 secara resmi. Kemudian pembacaan doa oleh Perdi Danata. Agenda terakhir dari WTC 2023 yaitu malam puncak yang dimulai pukul 20.05 WIB. Agenda ini dihadiri oleh peserta, pengurus HIMIKOM, senior dan alumni Ilmu Komunikasi UNIB. Malam Puncak dipandu oleh Herlin Nisa Merdianti dan Muhammad Kevin Alfisyahrin Elvandry selaku pembawa acara hiburan. Diawali dengan give away dari sponsor, pengumuman gugus terbaik serta pengumuman putra dan putri WTC 2023. Kemudian pemasangan selempang dari putra dan putri WTC 2022 yaitu Muhamad Ravie dan Elsa M. Cik Nur kepada putra dan putri WTC 2023 yaitu Ariel Darma Yendi dan Dini Hutagalung. Agenda dilanjutkan oleh penampilan Band Eldentic. Agenda malam puncak selesai pukul 21.30 WIB, semua peserta dan tamu undangan diarahkan untuk meninggalkan lokasi.

10 Negara Tawarkan Ekowisata Terbaik di Dunia, Indonesia Termasuk

HIMIKOM

Isu-isu kerusakan lingkungan sangat penting untuk diketahui oleh para pelancong ketika datang ke destinasi wisata yang akan dikunjungi. Sudah Banyak masyarakat yang menjadi lebih sadar akan lingkungan, terutama ketika akan bepergian ke wisata alam. 

(sumber : Freepik.com)


Ada banyak cara untuk bepergian ke destinasi yang lebih ramah lingkungan dengan cara menaiki kendaraan umum seperti kereta api, bus, maupun kendaraan umum lainnya. 

Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk menjadi turis yang lebih baik. Dan sekarang, banyak sekali komunitas maupun organisasi yang ingin menghargai satwa liar, mendukung komunitas pecinta alam, dan membatasi dampak lingkungannya, sehingga memiliki destinasi yang lebih mengedepankan ekowisata. 

Forbes Advisor telah mengembangkan indeks ekowisata untuk membantu wisatawan menentukan lokasi terbaik yang menawarkan pengalaman akan sadar kepada lingkungan atau ekowisata. 

Indeks tersebut mengukur berbagai faktor, termasuk jumlah spesies hewan dan tumbuhan, dan spesies yang dilindungi per 10 km persegi, persentase daratan yang dilindungi, jumlah Situs Warisan Alam UNESCO, emisi CO2 per kapita, dan kinerja lingkungan secara umum, seperti kualitas udara. 

Dari hasil analisis data tersebut, negara Brasil menduduki posisi tertinggi dalam indeks ekowisata. Peringkat ini dibagi ke dalam berbagai kategori guna membantu merencanakan petualangan ramah lingkungan berikutnya. 

Australia memiliki jumlah situs warisan dunia UNESCO terbanyak, sedangkan Brasil tampaknya memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tertinggi, dan Singapura paling kaya akan alam. Untuk persentase terbesar lahan lindung, Bhutan menempati posisi teratas, dan Yunani adalah negara dengan peringkat tertinggi di Eropa.

Berikut ini 10 destinasi teratas untuk kategori ekowisata menurut Forbes Advisor:

1. Brasil (skor indeks: 94,9)

2. Meksiko (skor indeks: 86)

3. Australia (skor indeks: 84)

4. Ekuador (skor indeks: 82,1)

5. Kosta Rika (skor indeks: 81,2)

6. Bhutan (skor indeks: 81)

7. Peru (skor indeks: 81)

8. Indonesia (skor indeks: 80,1)

9. Panama (skor indeks: 79,6)

10. Tanzania (skor indeks: 79,3)


penulis : Assyifa

Sumber : kompas.co

Perlukah Validasi?

HIMIKOM

 Perlukah Validasi?

Oleh: Wahyuni Fitri


  Psikiater dan psikolog semakin banyak dicari bahkan beberapa tahun ke depan

pekerjaan di bidang kesehatan jiwa ini akan dimasukkan ke dalam instansi-instansi

masyarakat, seperti contoh di perusahaan agar pegawai lebih mudah untuk berkonsultasi.

  Bila kita telaah maka masalah kesehatan jiwa ini sudah menjadi hal yang sangat serius

sekarang. Membahas kesehatan mental sebenarnya sudah sangat sering namun tidak bisa

diberhentikan karena lonjakan kasus kesehatan mental terus meningkat terutama seiring

berkembangnya teknologi. Ketika seseorang menuntut dirinya sendiri untuk selalu

berpikir dan bersikap positif, serta menolak emosi negatif, hal inilah yang akan

berdampak buruk bagi kesehatan mental. Sehingga akan terbentuklah pribadi palsu yang

tidak dapat merealisasikan emosinya, ketika marah tidak boleh marah, ketika tersinggung

tidak boleh tersinggung. Padahal akan lebih mudah untuk menerima saja dan akui apa

yang dirasakan daripada memanipulasinya. Kehidupan adalah 10% tentang apa yang

terjadi pada kita dan 90% lain nya tentang bagaimana reaksi kita terhadap apa yang

terjadi.

  “Pengakuan” satu kata tapi sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Mungkin

kita pernah melihat orang-orang yang sangat aktif di media sosial bukan untuk sesuatu

hal yang penting, tapi sekedar mem-posting apa makanannya hari ini atau sekarang

sedang melakukan aktivitas apa yang semestinya orang lain tidak perlu tahu. Namun,

ketika ditanya mereka akan sontak menjawab itulah kegunaan sosial media. Atau

mungkin kita tidak asing dengan kalimat ini, “ ingin membanggakan kedua orang tua”,

sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Namun, jika kita lihat pada

kenyataannya refleksi dari membanggakan tersebut adalah pengakuan. Karena mentalitas

yang haus akan pembuktian dan validasi terus tumbuh di generasi sekarang, seakan-akan

hidup adalah bagaimana kita diakui orang.

  Banyak orang berlomba-lomba mem-posting kegiatan di media sosial yang pada

dasarnya hanya untuk kepuasan pribadi. Padahal semakin banyak yang orang lain tahu

tentang diri kita, maka akan semakin tidak tenang hidup kita. Sebagai contoh ketika

seseorang mem-posting foto baru di Instagram kemudian ada komentar yang kurang enak

dibaca sehingga membuat si pemilik foto kesal, begitulah contoh dari kegunaan sosial

media semua orang berhak dan bebas untuk berpendapat. Terkadang apa yang kita lihat

di sosial media dengan di kenyataannya tidak sesuai dengan ekspektasi, hal ini

dikarenakan orang-orang hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan. Apa

yang kamu tampakkan maka itulah yang akan menggerakkan jari-jari dan mulut orang

lain. Kekuasaan sosial media juga sangat berpengaruh, sekarang untuk sekedar

mengumpulkan masa tidak harus melakukan demo, cukup buat petisi dan disetujui oleh

banyak orang.

  Sering kali antara etika dan kenyataan, apa yang benar, dan apa solusinya, sulit di

seimbangkan. Ketika seseorang memiliki suatu masalah maka yang orang ini lakukan

adalah membagikan masalahnya di sosial media, diawali dengan bercerita mengenai

masalahnya kemudian mencurahkan apa yang ia rasakan. Terkadang orang-orang seperti

ini adalah orang yang haus akan pengakuan, dia tidak memiliki banyak bukti untuk

dukungan maka dari itu ia mencari rombongan lewat sosial media. Mereka akan

cenderung menghindar dan terus mencari dukungan atas kesalahan yang mereka benarkan

daripada mencari solusi dan menghadapi masalah tersebut. Padahal ketika kamu mulai

mengumbar masalah mu, 80% orang tidak akan peduli 20% sisanya senang kamu

memiliki masalah dan pada kenyataannya hidup akan jauh lebih tenang ketika orang lain

tidak banyak tahu tentang kita. Tanpa kamu sadari ketamakan dan keserakahan mu akan

sesuatu itu membuat kamu mengorbankan dan menyakiti diri mu sendiri bahkan orang

lain demi memenuhi pengakuan tersebut.

  Bagaimana menghadapi kritik dari orang lain? ketika kamu di kritik mulailah

untuk menyadari apakah kritikan tersebut benar. Jika kritik tersebut benar jadi kan

pembelajaran untuk mu. Tapi, jika kritik tersebut salah maka hidup mu akan baik-baik

saja karena yang rugi adalah mereka yang memberikan persepsi yang salah tentang diri

kamu karena kebenarannya sendiri tidak berubah, jadi ketika orang lain memberikan

kritik kepada kita dan ternyata kritik tersebut tidak benar adanya maka yang rugi adalah

mereka. Se mudah itulah cara berpikir untuk menjaga agar hidup tetap tenang. Hanya ada

satu cara untuk menghindari kritik, yaitu tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apa-

apa, dan tidak menjadi apa-apa. lebih baik diam terlihat kosong daripada banyak bicara

sehingga kelihatan bodohnya. Dan pikirkan selalu apa yang akan kita sampaikan jangan

memermalukan diri kita sendiri.

  Jangan langsung percaya terhadap apapun cerita yang kamu dengar karena selalu

ada tiga sisi di baliknya, yaitu pandangan mu, pandangan orang lain, dan cerita yang

sebenarnya. Maka bacalah dari sudut pandang manapun sampai kamu tahu kebenaran

aslinya. Seperti itulah implementasi kita ketika membaca suatu berita yang ada di media

sosial, sebagai pengguna yang cerdas maka ada baiknya jangan langsung percaya dan

mulailah untuk menilai dan jika itu sangat penting maka carilah kebenaran berita tersebut.

Semua yang kita dengar adalah opini bukan fakta, semua yang kita lihat adalah perspektif

bukan kebenaran.

  Lalu bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan? pertama fokus lah pada apa yang

dapat kamu kendalikan, seperti opini atau persepsi kita, keinginan kita, tujuan kita di

awal, dan segala sesuatu yang merupakan tindakan dan pikiran kita sendiri. Kemudian

tidak perlu mengkhawatirkan tentang apa pendapat orang lain dan tindakan orang lain,

serta apa yang tidak dapat kamu ubah. Hindari memberi tahu semua orang tentang

pengembangan dirimu, perbanyak lah mendengar daripada berbicara, kurangi mengeluh

bahkan ke diri sendiri. Keberuntungan adalah apa yang terjadi ketika kesempatan bertemu

dengan persiapan, tidak ada hal hebat yang tercipta dalam sekejap, dan terakhir lakukan

seluruh hal secukupnya.

  Tidak semua orang di dunia ini memahami niat kita sebenarnya, mereka tidak

terlalu tertarik kepada kita. Jadi, tidak perlu menjelaskan sesulit apa hidup kita atau

sekeras apa usaha kita. Kita hanya akan terus melakukan apa yang biasa kita lakukan, kita

akan terus maju diam-diam apapun kata orang, hanya karena kita hidup diam-diam bukan

berarti kita menghilang. Hal yang paling penting adalah tidak pernah menghilang. Hidup

itu bukan tentang membandingkan dirimu dengan orang lain, tapi apa pilihan yang kau

buat maka jangan pernah ragu akan diri sendiri. Jangan mencemaskan pandangan orang

lain atau pendapat merekan tentang mu, bukan pandangan orang lain yang membentuk

dirimu, tapi pandangan mu sendirilah yang membentuk dirimu. Hidup tentang mengubah

jalan yang berbeda entah kamu menginginkannya atau tidak, kamu harus menghadapi

kenyataan yang ada di hadapanmu, kamu tidak bisa selalu menemukan jawaban yang

tepat. Oleh karena itu, Jangan pernah berhenti menanyakan pertanyaan tentang mengapa

kita hidup dan untuk apa kita hidup. Begitu kamu berhenti melakukan itu, asmara dalam

hidup berakhir. Jika kamu mencintai takdir mu apa adanya dan berpikir positif. Maka,

kamu bisa mengatasi keterbatasan dan menjadi orang hebat. Berpikir sederhana itu yang

terbaik. Orang yang paling mencintaimu di dunia ini adalah dirimu. Pikirkan saja soal

tujuan dan kesuksesan mu. Hadapi semua rintangan yang menghalangi mu. Tidak ada

usia yang pas untuk meraih impian dan tidak ada batasannya.

Mengendalikan Digital, Merawat Mental: Solusi untuk Zaman Modern

HIMIKOM

 Mengendalikan Digital, Merawat Mental: Solusi untuk Zaman Modern

olah : Sandri Prayuda


  Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara kita

hidup, bekerja, dan berinteraksi. Internet dan perangkat digital telah menjadi bagian tak

terpisahkan dari rutinitas harian kita, memberi kita akses ke informasi global,

kesempatan untuk terhubung dengan orang dari seluruh dunia, dan kenyamanan dalam

berbagai aspek kehidupan. Namun, di balik manfaat ini, kita juga dihadapkan pada

tantangan serius yang berkaitan dengan kesejahteraan mental. Dalam artikel ini, kita

akan menggali lebih dalam tentang dampak perangkat digital terhadap kesehatan mental

dan mengidentifikasi solusi yang dapat membantu mengatasi tantangan ini.


a. Banjir Informasi dan Tekanan Informasi


 Salah satu dampak paling terlihat dari era digital adalah "banjir informasi". Kita

hidup dalam dunia di mana kita terus-menerus dibanjiri dengan informasi dari berbagai

sumber seperti media sosial, berita online, dan platform konten digital lainnya. Namun,

lebih banyak informasi tidak selalu berarti lebih baik. Sebaliknya, banjir informasi ini

dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Kita merasa perlu untuk

selalu up-to-date dengan berita terbaru, tren, dan peristiwa dunia, meskipun kadang-

kadang ini bisa menjadi beban yang sangat berat.

  Banjir informasi seringkali mengakibatkan ketidakmampuan kita untuk mengelola

semua informasi yang masuk. Tekanan untuk tetap up-to-date dengan perkembangan

terbaru di dunia, tren, berita, dan konten lainnya dapat menjadi sangat mendalam.

Ketidakmampuan ini dapat memicu perasaan cemas, tertekan, dan bahkan kewalahan.

Seiring dengan meningkatnya tekanan untuk mengkonsumsi informasi, ada risiko

meningkatnya gangguan stres dan kecemasan yang dapat berdampak buruk pada

kesejahteraan mental kita.

  Dalam lingkungan yang selalu terhubung secara digital, muncul perasaan cemas

bahwa kita mungkin melewatkan sesuatu yang penting. Fenomena ini dikenal sebagai

"fear of missing out" (FOMO), di mana kita merasa khawatir melewatkan berita terbaru,

peristiwa penting, atau pengalaman seru yang dibagikan oleh orang lain di media sosial.

Kecemasan informasi semacam ini dapat menyebabkan dorongan untuk terus-menerus

memeriksa berita dan media sosial, bahkan hingga larut malam, yang pada akhirnya

dapat mengganggu tidur dan mengurangi kualitas hidup kita.


b. Tantangan Media Sosial dan Perbandingan Sosial


  Media sosial telah merevolusi cara kita berinteraksi dan berbagi pengalaman.

Namun, di balik antarmuka yang menarik, ada dampak psikologis yang perlu

diperhatikan. Terlalu sering, kita mengevaluasi diri kita sendiri dan kehidupan kita

berdasarkan apa yang kita lihat di media sosial. Ini bisa mengarah pada perasaan tidak

memadai atau bahkan depresi, karena kita cenderung membandingkan prestasi dan

kebahagiaan kita dengan versi yang direkayasa dari kehidupan orang lain.

Ketergantungan pada validasi dari dunia digital juga dapat merusak persepsi diri kita

dan membuat kita terjebak dalam pola perilaku yang tidak sehat.

  Salah satu dampak paling nyata dari media sosial adalah kecenderungan untuk

membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita cenderung melihat dan

membandingkan prestasi, penampilan, dan kehidupan kita dengan apa yang kita lihat di

media sosial. Namun, perlu diingat bahwa apa yang kita lihat di media sosial sering kali

adalah potongan-potongan terpilih dari kehidupan orang lain. Orang cenderung

membagikan momen-momen paling bahagia dan prestasi mereka, meninggalkan aspek-

aspek kehidupan yang kurang sempurna tersembunyi. Dampaknya adalah perasaan

rendah diri dan tidak puas dengan diri sendiri.

  Media sosial juga memberikan platform untuk menerima validasi digital dalam

bentuk "like," komentar, dan pengikut. Seiring waktu, ini dapat membuat kita

mengaitkan nilai diri kita dengan respons positif yang kita terima di dunia digital.

Terlalu banyak mengandalkan validasi ini dapat menyebabkan ketergantungan

emosional pada media sosial dan perasaan tidak berharga ketika respons tidak sesuai

harapan. Perasaan ini, jika dibiarkan tidak terkendali, dapat merusak kesehatan mental

kita.

c. Gangguan Tidur dan Ketidakseimbangan Hidup


  Ponsel pintar dan perangkat lainnya memberi kita kenyamanan untuk tetap

terhubung, tetapi dampaknya terhadap tidur kita dapat merugikan. Paparan cahaya biru

dari layar perangkat dapat mengganggu produksi hormon tidur melatonin, membuat kita

sulit tidur dengan nyenyak. Ini berdampak pada kualitas tidur dan berpotensi memicu

gangguan tidur yang lebih serius. Selain itu, ketergantungan pada perangkat digital juga

dapat mengganggu keseimbangan antara kehidupan online dan offline. Aktivitas sosial,

fisik, dan relaksasi seringkali terabaikan karena kita terjebak dalam dunia digital.

  Salah satu cara teknologi digital mempengaruhi kita adalah melalui paparan

cahaya biru yang dihasilkan oleh layar perangkat. Cahaya biru ini dapat mengganggu

produksi hormon melatonin dalam tubuh kita, hormon yang mengatur siklus tidur-wake

kita. Paparan cahaya biru di malam hari, terutama dari layar perangkat, dapat

mengacaukan ritme alami tubuh kita dan membuat kita kesulitan tidur. Gangguan tidur

dapat berdampak serius pada kesejahteraan mental, merangsang kelelahan, penurunan

konsentrasi, perasaan lelah, dan bahkan depresi.

  Teknologi digital juga dapat menjadi penyebab utama ketidakseimbangan hidup.

Ketergantungan yang berlebihan pada layar perangkat dapat menghabiskan banyak

waktu yang dapat digunakan untuk berinteraksi secara sosial, berolahraga, atau

mengejar hobi dan minat. Gangguan waktu ini dapat berdampak pada kesejahteraan

mental dan fisik kita. Kekurangan interaksi sosial langsung dapat menyebabkan

perasaan kesepian dan isolasi, yang secara langsung dapat merusak kesejahteraan

mental kita.


d. Solusi Mengendalikan Digital untuk Merawat Mental


  Menghadapi tantangan ini, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk

mengendalikan dampak negatif teknologi digital pada kesehatan mental kita:

1. Membangun Kesadaran Digital: Pertama-tama, kita perlu memahami

bagaimana teknologi digital memengaruhi pikiran dan perasaan kita. Ini melibatkan

pengenalan terhadap pola konsumsi digital kita dan dampaknya terhadap kesejahteraan

mental kita.

2. Menetapkan Batas Waktu Layar: Mengatur waktu layar harian adalah langkah

penting untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada teknologi. Ini melibatkan

menentukan batas waktu yang wajar untuk penggunaan media sosial, periklanan digital,

dan hiburan online lainnya.

3. Melibatkan Diri dalam Kegiatan Bermakna: Membuat waktu untuk kegiatan

yang meningkatkan kesejahteraan mental seperti meditasi, yoga, olahraga, dan seni

adalah cara yang baik untuk menjaga keseimbangan hidup. Ini juga dapat membantu

mengalihkan fokus dari perangkat digital.

4. Membangun Keterhubungan Sosial Langsung: Interaksi sosial langsung

memiliki dampak besar pada kesejahteraan mental. Meluangkan waktu untuk bertemu

teman dan keluarga secara fisik, terlibat dalam percakapan yang dalam dan bermakna,

dapat membantu mengatasi perasaan kesepian dan isolasi.

  Kesehatan mental dalam era digital adalah tantangan yang memerlukan perhatian

serius. Meskipun teknologi digital memberi kita banyak manfaat, kita harus tetap

waspada terhadap dampak negatifnya. Dengan mengendalikan konsumsi digital,

mengembangkan kesadaran digital yang kuat, dan berinvestasi dalam interaksi sosial

langsung serta kegiatan bermakna, kita dapat menjaga kesehatan mental kita dan meraih

manfaat penuh dari dunia digital tanpa merusak keseimbangan hidup kita. Dengan

demikian, "Mengendalikan Digital, Merawat Mental" bukan hanya semboyan, tetapi

juga merupakan langkah proaktif untuk mencapai kesejahteraan di era modern ini.

“Terjerat dalam Jaringan Digital” Mengupas Dampak Psikologis Perbudakan Modern di Era Teknologi

HIMIKOM

 “Terjerat dalam Jaringan Digital”

Mengupas Dampak Psikologis Perbudakan Modern di Era Teknologi


Oleh: Rafiqoh Wahidah 


  Angkat tangan jika kamu pernah terjebak dalam kisah horor di mana sinyal wifi tiba-

tiba menghilang di tengah pertemuan zoom yang penting, dan kamu merasa seperti sedang

terperangkap di “Twilight Zone” versi teknologi. Tetapi tahukah kamu bahwa ada jenis

perbudakan modern yang terjadi di balik layar ponsel kita?


  Mari kita jalin diskusi ini dengan gaya yang lebih segar dan menarik, sembari

melempar pandangan cepat pada sebuah perandaian. Coba bayangkan, saat kamu sedang

asyik menelusuri berita di media sosial, tiba-tiba layar gawai mu penuh dengan judul

‘Terjerat dalam Jaringan Digital’. Rasanya seperti momen dari film fiksi ilmiah, tetapi inilah

kenyataan yang mungkin tidak kamu sadari. Cobalah kita letakkan lensa perhatian kita di era

digital yang penuh canggih ini. Di tengah laju perkembangan zaman yang semakin maju dan

kebisingan notifikasi ponsel kita yang tak pernah reda, siapa sangka bahwa perbudakan masih

terjadi.

  Perbudakan sering kali hanya dihubungkan dengan praktik pada era kolonialisme.

Namun, di zaman modern ini, masih terjadi banyak praktik “Slavery” yang dilakukan di

Indonesia. Bahkan, Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-19 dalam Global Slavery

Index tahun 2016. Tetapi yang lebih mengejutkan lagi, perbudakan modern ini tidak hanya

terjadi dalam dunia fisik, melainkan juga menyelinap ke dalam dunia maya. Benar-benar

seperti skenario dari film fiksi ilmiah, bukan?

  Dalam era di mana teknologi mendominasi hampir setiap aspek kehidupan kita,

terbuka pula pintu bagi tantangan baru terhadap kemanusiaan. Di balik kilauan dunia digital

yang modern, ada realitas gelap yang tak terhindarkan, yaitu perbudakan modern (modern

slavery). Meskipun terasa jauh dari zaman modern, nyatanya hal ini masih eksis dalam

bentuk yang lebih rahasia dan sering kali tak terlihat di tengah dunia digital. Artikel ini akan

mengupas tuntas bagaimana era digital telah mengintensifkan perbudakan modern dan

dampaknya terhadap kesehatan mental, serta menyajikan solusi yang dapat kita terapkan

guna menekan persentase angka terjadinya perbudakan modern di Indonesia.

  

Sebelum kita melangkah lebih dalam, penting untuk memahami arti dari istilah

perbudakan modern itu sendiri. “Modern Slavery” atau perbudakan modern merujuk pada

praktik-praktik yang melibatkan pengekangan, eksploitasi, dan pemanfaatan manusia dengan

cara yang mirip dengan perbudakan tradisional, tetapi terjadi dalam konteks zaman modern.

Praktik ini melibatkan penyalahgunaan hak asasi manusia, pekerjaan paksa, perdagangan

manusia, eksploitasi seksual, dan berbagai bentuk penindasan yang merampas hak manusia

terhadap kebebasan.

  Perbudakan modern terus berlangsung karena adanya kesadaran tentang situasi

sosial-ekonomi di Indonesia yang menjebak sejumlah masyarakat yang tidak mempunyai

pilihan, serta kurangnya pengetahuan sejak semula soal apa yang mereka ikuti. Di tengah era

dengan pesatnya perkembangan teknologi, perbudakan modern telah mengambil wujud baru

dalam bentuk perbudakan digital, di mana teknologi dan internet dimanfaatkan untuk

memanipulasi, mengendalikan, atau mengeksploitasi korban.

  Dalam banyak kasus, para korban perbudakan modern tidak memiliki kebebasan

untuk memilih atau melarikan diri dari situasi yang merugikan mereka. Mereka seringkali

diperlakukan seolah hanya barang komoditas yang dapat diperjualbelikan, tanpa

mendapatkan hak dasar dan martabat manusia yang seharusnya dihormati. Sayangnya, isu

ini sering kali terjadi di tempat-tempat yang sulit diakses dan tidak menjadi masalah yang

diprioritaskan. Seperti halnya semua orang, mereka yang terjebak dalam jaringan perbudakan

modern masuk ke dalamnya dengan harapan dapat memperbaiki kehidupan mereka, serta

akibat kurangnya pemahaman tentang cara menghadapi pengaruh negatif media sosial.

  Setelah memahami konsep perbudakan modern, mari beralih pada pembahasan

mendalam mengenai perbudakan modern dalam dunia digital. Penting untuk menyadari

bahwa era digital telah memberikan jalan yang lebih luas bagi perbudakan modern untuk

berkembang. Salah satu isu mengenai perbudakan digital yang sedang hangat

diperbincangkan saat ini adalah kasus “Revenge Porn”. Permasalahan ini seakan menjadi

plot drama yang tersasar dalam panggung dunia digital. Bayangkan saja, ada seseorang yang

dengan seenaknya menyebarkan konten seksual tanpa izin, lalu menjadikannya sebagai

senjata untuk mengancam, memeras, mengendalikan, dan merendahkan korban.

  Menurut penelitian dari Cyber Civil Rights Initiative, sekitar 1 dari 25 orang dewasa

di Amerika Serikat pernah menjadi korban “Revenge Porn”. Ini bukan hanya sekadar bualan,

melainkan masalah serius yang mencoreng cahaya dunia digital yang cerah.

Di tengah era digital yang seharusnya membawa kebebasan dan konektivitas,

paradoksnya adalah teknologi juga memberikan alat bagi pelaku perbudakan modern untuk

mengontrol dan mengeksploitasi korban mereka. Tantangan utama yang dihadapi oleh

korban perbudakan modern adalah isolasi dan teror psikologis. Teknologi yang semakin

canggih justru memungkinkan pelaku mengawasi dan mengendalikan korban melalui pesan

teks, panggilan telepon, dan jejaring sosial. Ini menciptakan rasa ketidakamanan konstan dan

perasaan terperangkap dalam keadaan tanpa akhir. Dalam situasi ini, gangguan stres pasca-

trauma (PTSD), depresi, dan kecemasan menjadi rekan setia yang dapat meruntuhkan

kesejahteraan mental korban.

  Meskipun dampak psikologis perbudakan modern dalam era digital adalah tantangan

yang serius, solusi ada di ujung jari kita. Edukasi dan kesadaran masyarakat adalah langkah

awal yang penting dalam mengatasi masalah ini. Memahami tanda-tanda perbudakan modern

dan cara melaporkannya adalah langkah pertama menuju pencegahan dan perlindungan

korban potensial. Meskipun teknologi memainkan peran dalam mengintensifkan dampak

perbudakan modern pada kesehatan mental, ia juga dapat menjadi alat bagi pemulihan. Kita

dapat mengubah arahnya, dari alat yang bisa membantu perbudakan menjadi semakin

tersembunyi, menjadi alat yang membebaskan dan memberdayakan. Aplikasi kesehatan

mental, konseling online, dan platform komunitas adalah sumber daya yang dapat membantu

korban mengatasi dampak psikologis yang mereka alami.

  Namun, ada pula tantangan yang perlu diatasi dalam mencari solusi. Kekhawatiran

tentang privasi dan keamanan seringkali menghalangi korban perbudakan modern untuk

mencari bantuan. Mereka takut bahwa melaporkan atau mencari dukungan akan

membahayakan mereka lebih lanjut. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga

terkait untuk memastikan bahwa informasi korban dilindungi dan bahwa proses bantuan

dilakukan dengan penuh rahasia.

  Dalam dunia digital yang semakin terkoneksi, perbudakan modern masih ada di

antara kita, merenggut kebebasan dan martabat manusia. Menghadapai kenyataan mungkin

lebih gelap dari apa yang kita bayangkan, namun kita tidak bisa hanya terus mengangguk dan

beranjak pergi. Ini adalah panggilan untuk bertindak, untuk melawan perbudakan modern

yang terus tumbuh di era teknologi ini. Dalam suasana yang semakin terkoneksi dan canggih,

mari kita buktikan bahwa kita tidak akan membiarkan layar digital yang kita cintai menjadi

panggung bagi ketidakadilan dan penderitaan.

  Terkadang, jawaban dari masalah yang tampak tak terkendali adalah langkah-langkah

kecil yang kita ambil bersama. Meskipun seringkali terhanyut dalam pusaran teknologi, hal

tersebut hendaknya tidak menghalangi kita untuk menjadi suara yang berbicara bagi mereka

yang terjerat dalam jaringan perbudakan modern. Saat kita tenggelam dalam dunia maya,

jangan lupakan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan, setiap kata yang kita ucapkan, bisa

menjadi langkah kecil yang membantu menghentikan siklus perbudakan modern di era ini.

Mari kita tinggalkan bekas jejak yang berarti di dunia digital. Sudah saatnya kita

menjadikan teknologi sebagai kekuatan untuk kebaikan, dan alat untuk mengatasi

permasalahan yang tersembunyi. Kita adalah generasi yang mampu merubah narasi,

membangun solusi, dan membantu mereka yang terpinggirkan mendapatkan kembali

kebebasan dan hak mereka.

  Jadi, mari kita berdiri bersama, menjalin aksi-aksi nyata di balik layar dan di dunia

nyata. Mari kita berbicara dengan suara yang berani, menginspirasi perubahan, dan

memastikan bahwa di era teknologi ini, kemanusiaan tetap menjadi nilai utama. Dalam

rangkaian kode dan algoritma, mari kita ciptakan jejak harapan dan keadilan bagi mereka

yang telah terjerat dalam jaringan digital. Masa depan adalah milik kita untuk dibentuk, dan

bersama, kita bisa membuatnya bebas dari bayang-bayang perbudakan modern.

Tantangan Masalah Kesehatan Mental Di Era Digital

HIMIKOM

 Tantangan Masalah Kesehatan Mental Di Era Digital

oleh : Putri Apriliani


  Kesehatan mental (mental health) adalah keadaan dimana seseorang merasa benar-

benar baik, dapat mewujudkan potensi dirinya, dapat menahan tekanan nyata dalam

berbagai situasi, dapat bekerja secara produktif dan berpartisipasi secara langsung.

Kesehatan mental menjadi isu yang semakin mendesak dalam kehidupan modern, terutama

dengan berkembangnya teknologi digital. Era digital memasuki Revolusi Industri 4.0, dunia

industri baru yang bersifat global. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan era digital

membawa dampak yang besar. Berbicara era 4.0, sudah ada era baru yang disebut era 5.0

(Society 5.0) yang fokus pada komponen manusia sehingga era ini tak hanya membawa

banyak kemudahan dan peluang, namun juga membawa tantangan baru bagi kesehatan

mental seseorang. Dalam artikel ini, saya mengeksplorasi dampak era digital terhadap

kesehatan mental, tantangan yang muncul, dan solusi yang dapat diambil. Di era digital

yang berkembang pesat, kesehatan mental menjadi topik yang semakin mendapat perhatian.

Teknologi modern membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, namun juga

membawa tantangan baru bagi kesehatan mental.

  Salah satu dampak positif era digital adalah kemudahan akses informasi dan layanan

kesehatan mental secara online. Individu dapat dengan mudah menemukan informasi,

sumber daya pendukung, dan bahkan pengobatan secara online. Di sisi lain, paparan

informasi tidak sehat atau negatif secara berlebihan di media sosial dapat berdampak buruk

pada kesehatan mental. Sebagai bagian integral dari era digital, media sosial memiliki

dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental. Membandingkan diri sendiri dengan

orang lain di atas panggung sering kali menimbulkan perasaan rendah diri dan

ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Standar kecantikan dan kesempurnaan yang terlihat di

media sosial dapat menimbulkan kecemasan dan depresi pada sebagian orang.

Penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran digital yang sehat. Mengelola

waktu pemakaian perangkat, menetapkan batasan di media sosial, dan menghindari paparan

konten berbahaya adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental di era digital.

Menyerap momen offline, mengembangkan hobi di luar dunia digital, dan menjaga

interaksi sosial di dunia nyata juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan. Selain

itu, literasi media dan pendidikan kesehatan mental harus ditingkatkan, terutama di

kalangan generasi muda. Mereka perlu memahami bagaimana mencari informasi yang

dapat memberikan manfaat positif dan bagaimana mengenali tanda-tanda kesehatan mental

pada diri sendiri dan orang lain.

  Di era yang semakin digital, peran orang tua, pendidik dan masyarakat dalam

mendukung kesehatan mental sangatlah penting. Semua pihak harus bekerja sama untuk

menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional dan psikologis yang

sehat sambil mengajarkan cara-cara efektif untuk berinteraksi dengan teknologi.


Beberapa tantangan yang muncul dengan berkembangnya zaman terutama bagi kesehatan

mental, meliputi :

1. Ketergantungan Teknologi

Masyarakat saat ini cenderung terjebak dalam penggunaan teknologi seperti

smartphone dan media sosial yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental.

Kecanduan ini dapat menyebabkan kecemasan, stres dan depresi karena perbandingan

sosial, pencarian validasi di internet dan informasi yang berlebihan dan seringkali informasi

yang berlebihan.

Solusi: Pengaturan penggunaan teknologi. Penting untuk mengelola penggunaan teknologi

secara bijak. Menetapkan batasan waktu dan menghindari penggunaan berlebihan dapat

membantu mengurangi efek negatif. Keseimbangan yang diperlukan dapat dicapai dengan

mengetahui kapan harus “log out” dari media sosial dan fokus pada aktivitas nyata.

2. Cyberbullying dan SMS

Era digital menghadirkan risiko pelecehan dan penghinaan secara online melalui pesan

teks. Kegiatan tersebut dapat merusak harga diri dan kesehatan mental seseorang, terutama

di kalangan generasi muda yang kurang beruntung.

Solusi: Kesadaran dan Pendidikan Langkah-langkah penting termasuk meningkatkan

kesadaran akan dampak negatif dari cyberbullying dan SMS serta mendidik masyarakat,

terutama anak-anak dan remaja, tentang pentingnya membicarakan pengalaman online yang

tidak menyenangkan. Pendidikan pencegahan dan bela diri di dunia digital juga harus

digalakkan.

3. Perbandingan Sosial dan Citra Tubuh

Media sosial sering kali memuat gambar-gambar yang diubah secara digital dan

idealisasi tubuh yang tidak realistis. Hal ini dapat memicu perasaan rendah diri,

ketidakpuasan tubuh, dan gangguan makan.

Solusi: Literasi Media dan Kepositifan Tubuh. Langkah pertama adalah membantu

masyarakat memahami bahwa gambar yang diposting di media sosial mungkin tidak

mencerminkan kenyataan. Mempromosikan gerakan tubuh positif dan literasi media dapat

membantu menciptakan citra tubuh dan diri Anda sendiri yang lebih realistis dan positif.

4. Isolasi sosial

Meskipun teknologi memungkinkan adanya konektivitas global, ironisnya era digital

juga dapat memicu isolasi sosial. Mengandalkan komunikasi online dapat mengurangi

interaksi pribadi yang penting untuk kesehatan mental yang baik.

Solusi: Interaksi fisik dan dukungan kesehatan mental secara online. Mengutamakan

interaksi sosial langsung itu penting. Namun, era digital juga menawarkan platform

dukungan kesehatan mental online seperti terapi online dan kelompok dukungan virtual.

Dengan menggabungkan keduanya, Anda mendapatkan keseimbangan yang lebih baik.

5. Konten Berbahaya

Paparan konten berbahaya atau merugikan di internet dapat memiliki dampak serius

pada kesehatan mental seseorang. Konten semacam itu bisa memicu perasaan cemas, stres,

atau bahkan menyebabkan depresi. Bahaya utamanya adalah bahwa paparan tak terduga

atau tidak diinginkan terhadap konten tersebut dapat mengganggu pikiran dan emosi

dengan cepat.

Solusi: Menjaga privasi dan keamanan online dengan mengaktifkan pengaturan privasi di

media sosial dan hindari mengklik tautan atau mengikuti sumber yang meragukan.

Selanjutnya mempertimbangkan untuk menginstal perangkat lunak keamanan yang baik

dan menggunakan fitur pemfilteran pada beberapa platform. Jika menemukan konten

berbahaya, harap laporkan atau hindari memublikasikannya ulang. Terakhir, mempelajari

keterampilan penting literasi digital dan penilaian konten akan membantu Anda

menghindari paparan konten berbahaya.

6. Gangguan Tidur

Penggunaan gadget dan perangkat elektronik secara berlebihan di malam hari dapat

mengganggu ritme sirkadian tubuh kita. Cahaya biru yang dipancarkan layar dapat

menekan produksi melatonin, hormon tidur alami tubuh kita. Sehingga penggunaan

berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur dan memperburuk kualitas tidur. Jika Anda

ingin memastikan tidur malam yang nyenyak, penting untuk mengurangi paparan cahaya

biru sebelum tidur, misalnya dengan mengaktifkan mode malam di perangkat Anda atau

menghindari layar elektronik sebelum tidur.

Soluai : Menjaga waktu tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman

dan gelap, menghindari kafein dan gawai sebelum tidur, serta berolahraga secara teratur

namun tidak terlalu dekat dengan waktu tidur. Jika masalah tidur terus berlanjut,

pertimbangkan untuk menemui dokter.

  Dari beberapa contoh tantangan dan solusi yang sudah dipaparkan, terdapat berbagai

tantangan lain yang dapat memicu kesehatan mental di era digital saat ini. Secara

keseluruhan, kesehatan mental di era digital menghadapi tantangan nyata. Namun, dengan

kesadaran, edukasi, dan bimbingan yang tepat, masyarakat dapat tetap menjaga

kewarasannya saat berpartisipasi dalam dunia digital yang semakin terhubung. Hanya

dengan pendekatan holistik kita dapat memaksimalkan manfaat teknologi modern tanpa

mengorbankan kesejahteraan mental. Dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital

saat ini sangat diperlukan kesadaran diri dari tiap individu dalam menyikapi perkembangan

zaman, serta keikutsertaan masyarakat terutama keluarga dalam mengawasi dan

membimbing generasi milenial agar seimbang dalam memperhatikan kesehatan mental.

BE -FINE : Inovasi Berbasis Digital di Era Screen Culture Guna Menjaga Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Z

HIMIKOM

 BE -FINE : Inovasi Berbasis Digital di Era Screen Culture Guna Menjaga

Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Z

oleh : Karina Salsa Sabila


  Kesehatan mental seseorang memiliki urgensi yang sama dengan kesehatan

fisik. Kesehatan mental adalah sesuatu yang tersirat dan berhubungan langsung dengan

kejiwaan seseorang. Oleh karena itu, banyak individu yang telihat sehat secara fisik

tetapi belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang sama secara jiwa. Kesehatan mental

adalah kemahiran individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam usaha

mendapatkan kebahagiaan ataupun ketentraman hidup sehingga terhindar dari gangguan

jiwa. Kesehatan mental seseorang akan berdampak pada aktifitas kesehariaannya

dimana dengan mental yang sehat individu dapat berkegiatan secara produktif,

memberikan kontribusi untuk komunitas, menggali potensi diri secara optimal dan

memiliki kemampuan mengatasi problematika kehidupan dengan baik. Hal ini sesuai

dengan definisi kesehatan mental itu sendiri yang dikeluarkan oleh World Health

Organization (WHO). Sedangkan yang dimaksud dengan masalah kesehatan mental

adalah serangkaian kondisi yang berdampak pada kesehatan mental. Saat ini, kondisi

kesehatan mental menjadi perhatian negara-negara global tidak terkecuali negara

Indonesia.

  Isu kesehatan mental menjadi isu yang harus diperhatikan dan tidak boleh kita

kesampingkan karena berlandaskan data global di tahun 2019 yang dikeluarkan oleh

Badan Kesehatan Dunia (WHO), prevelensi gangguan mental di dunia mencapai 450

juta jiwa atau bisa dikatakan 1 dari 8 orang di dunia menderita gangguan kesehatan

mental. Di Indonesia sendiri berdasarkan Riset Kesehatan Nasional Indonesia, 3,7%

orang menderita depresi dari populasi 250 juta orang. Lembaga Matrik dan Evaluasi

Kesehatan juga menambahkan bahwa 20% anak-anak dan remaja bergelut dengan

masalah kesehatan mental. Data tersebut juga diperkuat oleh data terbaru yang

dikeluarkan oleh Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey di Tahun 2022

yang menunjukan bahwa 15,5 juta (34,9%) remaja mengalami masalah mental dan 2,45

juta (5,59%) remaja mengalami gangguan mental. Kondisi ini tentu saja sangat

mengkhawatirkan karena penderita ganguan mental didominasi oleh kalangan generasi

muda yang nantinya akan menjadi kunci untuk pembangunan bangsa.

  Pemerintah tentu saja telah melakukan berbagai upaya untuk menangani masalah ini

salah satunya yaitu mengeluarkan UU No. 18 yang mengatur tentang kesehatan mental

dan pengobatan seseorang dengan penyakit mental. Tetapi sayangnya dari banyaknya

penderita gangguan mental di Indonesia, baru 2,6% yang mengakses layanan konseling

baik emosi ataupun perilaku. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti : 1)

stigma buruk masyarakat tentang kesehatan mental. Sampai saat ini kebanyakan

masyarakat masih memandang negatif para penderita gangguan mental sehingga dengan

stigma buruk tersebut penderita merasa malu bahkan enggan untuk meminta dan

mencari pertolongan. Mayoritas mayarakat acapkali memandang orang sakit jiwa sama

dengan orang gila. Tentu saja hal ini akan sangat menghambat implementasi regulasi

kesehatan mental di Indonesia. 2) Keterbatasan jumlah psikolog dan psikiater dimana

Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat hanya ada 600-800 psikiater di seluruh

Indonesia, artinya satu psikiater harus melayani sekitar 300 ribu – 400 ribu pasien. Hal

tersebut tentu saja sangat berbeda jauh dari standar WHO yang menetapkan standar

jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1 : 30 ribu orang.

3) Kurangnya akses untuk layanan kesehatan mental. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi

geografis Indonesia yang begitu luas. Kementerian Kesehatan Indonesia memaparkan

ada sekitar 45 rumah sakit jiwa yang tersebar di 34 provinsi dengan kondisi fasilitas dan

tenaga professional yang masih terbatas dan kurang memadai kebutuhan masyarakat.

  Di era digital ini kegiatan interaksi berubah seratus delapan puluh derajat dimana

dengan kecanggihan teknologi, semua kegiatan interaksi bisa dilakukan secara mobile,

artinya perubahan ini menuntut cara-cara konvensional diubah menjadi cara-cara digital

atau bisa dikenal dengan sebutan screen culture. Generasi z adalah generasi pertama

yang tumbuh dengan ketersediaan konten on-demand dan dikelilingi oleh akses internet

sepanjang hidup mereka. Generasi z kini menjadi pusat mobilitas yang memprioritaskan

penggunaan layar kecil seluler dalam kegiatan kesehariannya. Menyesuaikan dengan

karakteristik generasi z yang tidak bisa lepas dari internet maka jawaban dari

permasalahan kesehatan mental di Indonesia khususnya dalam hal pelayanan bisa kita

alihkan dengan inovasi digital karena lebih efektif dan efisien baik itu dari segi waktu,

tenaga maupun biaya. Oleh karena itu, aplikasi BE-FINE hadir sebagai solusi dan

inovasi dalam rangka menjaga kesehatan mental bagi kalangan generasi z di era digital.


  BE-FINE adalah inovasi layanan kesehatan mental berbasis digital yang bisa diakses

kapan pun dan dimana pun oleh semua kalangan khususnya oleh kalangan generasi z.

Inovasi ini merupakan sinergi bidang kesehatan dengan bidang teknologi yang sudah

melekat menjadi inti dari komunikasi saat ini. Hal ini disesuaikan dengan data di tahun

2023 yang dikeluarkan oleh Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia

(APJII) yang menunjukan bahwa pengguna internet di Indonesia semakin melonjak

tinggi yaitu ada 215,63 juta pengguna. Hal ini tentu saja menjadi peluang besar

penggunaan teknologi internet dalam meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan

mental di Indonesia. BE-FINE dirancang untuk memberikan bantuan klinis,

menghimpun akses layanan kesehatan mental yang terbatas oleh jarak dan

meningkatkan pencapaian hasil optimal pada kesehatan mental di kalangan generasi z.

Aplikasi BE-FINE akan menggabungkan beberapa konsep yang disesuaikan dengan

era screen culture yaitu dengan menggunaan konsep yang menekankan pada pendekatan

ilmu pengetahuan berbasis modern seperti big data, Artifikal Intelligence (AI), dan

Internet of Things (IoT). Internet of Things (IoT) akan mempermudah kita dalam

memperluas manfaat dari internet yang terkoneksi secara terus-menerus sehingga kita

bisa mentrasfer sebuah big data melalui jaringan tanpa harus melalui interaksi manusia

terlebih dahulu. Sementara itu, Artifikal Intelligence (AI) akan memiliki peran sebagai

mesin yang mampu menganalisa dan memutuskan tindakan selanjutnya dengan kadar

yang sudah ditetapkan sebelumnya. Maka, mengacu pada komponen-komponen tersebut

aplikasi BE-FINE akan berusaha mengoptimalkan fitur-fitur yang ada supaya bisa

memberikan pelayanan maksimal kepada para penggunanya. Beberapa fitur yang akan

diterapkan pada aplikasi BE-FINE yaitu :

 

 • Fitur JUMPA KOSELOR

 

Fitur ini dirancang untuk para pengguna yang ingin melakukan konsultasi secara

online. Pengguna dapat berkomunikasi dengan konselor secara real time via mobile

tanpa harus bertatap muka secara langsung. Fitur ini menjadi jawaban dari ketimpangan

akses layanan kesehatan mental yang terkendala oleh faktor geografis khususnya untuk

pengguna di daerah-daerah terpelosok karena untuk melakukan konsultasi pengguna

tidak perlu pergi jauh-jauh sehingga akan lebih efektif dan efisien dari segi waktu,

tenaga maupun biaya.


Fitur JUMPA KONSELOR bisa dimanfaatkan pengguna untuk melakukan

pemeriksaan dini (screening) mengenai keadaan kesehatan mental mereka oleh tenaga

professional dan para ahli psikolog yang telah tersedia di aplikasi BE-FINE sehingga

diharapkan pengguna bisa merekognisi keadaan kejiwaan mereka dan bisa melanjukan

proses treatment yang lebih lanjut lagi. Hal ini sejalan dengan target pemerintah

mengenai kesehatan mental yang berubah haluan dari proses kuratif dan rehabilitatif

menjadi proses promotif dan preventif yang berfokus pada aksi pencegahan. Fitur ini

juga bisa dimanfaatkan oleh pengguna atau individu yang kurang bisa terbuka jika harus

bercerita secara langsung karena kerahasiaan identitas pengguna akan menjadi jaminan

di aplikasi BE-FINE sehingga pengguna bisa dengan lancar melakukan konsultasi

seterbuka mungkin tanpa harus ada yang ditutupi karena merasa takut atau pun malu.

 

  • Fitur BILIK REMBUKAN

 

Fitur ini memungkinkan pengguna untuk bergabung dengan komunitas yang

memiliki minat dan ketertarikan yang sama khususnya hal-hal mengenai kesehatan

mental. Di fitur ini pengguna bisa berinteraksi satu sama lain dengan pengguna lainnya

selain itu pengguna bisa melakukan diskusi serta bertukar informasi di halaman

komunitas yang sudah disediakan. Fitur bilik rembukan juga dilengkapi dengan fitur

chatting menyesuaikan dengan karakteristik generasi z yang senang melakukan

percakapan melalui pesan online. Pengguna bisa mencurahkan perasaan mereka di sini

dan pengguna lain bisa saling menanggapi dan menyemangati sehingga individu yang

membutuhkan tempat cerita namun bingung harus pergi ke mana dan bercerita ke siapa,

maka fitur BILIK REMBUKAN ini lah jawabannya. Fitur ini akan membuat pengguna

merasa didengar dan meyakinkan pengguna bahwa mereka tidaklah sendirian.

 

• Fitur PSIKOEDUKASI


 Fitur ini akan menggunakan beberapa konsep yaitu visual-based berupa artikel-

artikel mengenai kesehatan mental, audio-based berupa podcast yang bisa didengarkan

oleh pengguna dan kombinasi dari konsep keduanya yaitu video-based berupa non-

internet video yang bisa dinikmati langsung oleh pengguna. Fitur ini dirancang sebagai

wadah edukasi bagi para pengguna mengenai kesehatan mental sehingga pengguna bisa

mendapatkan banyak pengetahuan saat berselancar di fitur PSIKOEDUKASI ini.





  Strategi implementasi aplikasi BE-FINE akan dilakukan melalui empat tahapan

yaitu : 1) tahap perancangan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap sosialiasi, 4) dan tahap

evaluasi. Semua tahapan ini dilakukan untuk memastikan rancangan aplikasi BE-FINE

sesuai dengan perancangan yang sesuai dengan metode User Interface (berhubungan

dengan tampilan dan visualisasi), User Experience (berhubungan dnengan pengalaman

pengguna), dan Usability (berhubungan dengan kemudahan penggunaan).

  Kesimpulannya BE-FINE merupakan inovasi mental health berbasis digital

dengan konsep collaborative yang disesuaikan dengan digitalisasi di era screen culture

dan menargetkan kalangan generasi z sebagai sasarannya. Diharapkan inovasi aplikasi

BE-FINE dapat menjadi solusi dalam memerangi prevelensi gangguan jiwa di Indonesia

dan mampu mewujudkan Sustainable Development Goals yang ketiga yakni good

health and well-being.



Rancangan akhir aplikasi BE-FINE.

Cyberhealth App: Metode Terapi Berbasis Aplikasi Sebagai Solusi Pemulihan Bagi Anak Korban Cyberbullying

HIMIKOM

 Cyberhealth App: Metode Terapi Berbasis Aplikasi Sebagai Solusi Pemulihan Bagi

Anak Korban Cyberbullying

Oleh : Indah Permata Syari


PENDAHULUAN

  Di era digital dewasa ini perkembangan teknologi sangatlah pesat dapat dilihat

dari banyaknya kegiatan yang sekarang ini sudah berbasis teknologi terutama di bidang

teknologi informasibb. Namun, dalam perkembangannya Pemanfaatan Teknologi

Informasi di era saat ini memiliki dua sisi yang berbeda seperti pisau bermata dua. Di satu

sisi, terdapat banyak keuntungan dan manfaat yang dapat diperoleh, termasuk kemudahan

dalam menjalani berbagai tugas kehidupan serta peningkatan kualitas hidup manusia.

Namun, disisi lain, tidak sedikit kerugian dalam bentuk dampak negatif yang menyertai

penggunaan Teknologi Informasi ini. Salah satu dampak negatif yang muncul akibat

adanya Teknologi Informasi adalah fenomena Cyberbullying yang sering terjadi di

kalangan anak-anak yang umumnya terjadi di media sosial. Media sosial merupakan hasil

gabungan dari tiga komponen, yakni konten, komunitas, serta teknologi Web 2.0.

Kemajuan media sosial berpengaruh terhadap tiga aspek, yaitu masyarakat, bisnis, dan

lingkungan lokal. Media sosial bergantung pada teknologi berbasis web dan mobile untuk

menciptakan platform interaktif tempat pengguna dapat berbagi, berdiskusi, serta

mengubah konten. Berdasarkan informasi dari Nielsen, jumlah pengguna internet terus

bertambah seiring dengan pertumbuhan situs media sosial dibandingkan dengan jenis

situs lainnya.

  Cyberbullying, atau perundungan dunia maya, merujuk pada perilaku

perundungan yang menggunakan teknologi digital. Ini dapat terjadi di platform media

sosial, obrolan online, lingkungan bermain game, dan perangkat ponsel. Menurut konsep

"Think Before Text," cyberbullying adalah tindakan yang agresif dan disengaja yang

dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu. Tindakan ini menggunakan media

elektronik dan terulang secara berulang dari waktu ke waktu, ditujukan kepada seseorang

yang dianggap tidak mampu untuk dengan mudah menangkis perlakuan tersebut. Dalam

hal ini, ada ketidaksetaraan kekuatan antara pelaku dan korban. Istilah "ketidaksetaraan

kekuatan" dalam konteks ini merujuk pada persepsi kapasitas fisik dan mental yang

berbeda. Salah satu korban terbanyak cyberbullying adalah anak, hal tersebut dapat

dibuktikan dengan data ata Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pelanggaran

hak anak pada tahun 2021 menunjukkan angka masih cukup tinggi. Data pengaduan

masyarakat, pada tahun 2019 terdapat 4.369 kasus, pada 2020 naik menjadi 6.519 kasus

dan 2021 masih mencapai angka 5.953 kasus dimana dengan data tersebut menjadikan

indonesia masuk sebagai 10 negara teratas dengan kasus cyberbullying.


  Cyberbullying yang terjadi pada anak tentunya menimbulkan dampak yang begitu

besar seperti ketidakpercayaan terhadap orang lain, Menjadi tidak percaya diri,

Kekhawatiran berlebih, dan kurangnya motivasi dan bahkan dalam beberapa kasus

korban yang mengalami cyberbullying memutuskan untuk bunuh diri. Seperti dalam

kasus yang dialami oleh seorang anak berumur 13 tahun yang bernama Ryan Halligan

Suatu hari, sebuah cerita memalukan tentang dirinya menyebar di lingkungan sekolahnya.

Ryan menerima ejekan setiap hari dari teman-temannya. Tidak hanya itu, ada satu insiden

di mana seorang teman perempuannya berpura-pura memiliki ketertarikan romantis

terhadap Ryan, semata-mata untuk mendapatkan lebih banyak materi cerita memalukan

tentang Ryan. Namun, yang lebih jahatnya, teman perempuan ini secara terus-menerus

menyebarkan cerita-cerita tersebut dengan menambahkan unsur-unsur yang berujung

pada tindakan fitnah. Akibatnya, Ryan tidak hanya mengalami perundungan dalam

kehidupan sehari-hari, tetapi juga di ranah virtual dunia maya. Karena tidak mampu

bertahan, Ryan mengambil keputusan tragis dengan mengakhiri hidupnya. Dari kasus

diatas dapat penulis simpulkan bahwa cyberbullying bukanlah kasus yang dapat dianggap

sebagai kasus yang sepele, dibutuhkannya terobosan mengenai sebuah metode untuk

memulihkan mental anak yang mengalami cyberbullying. oleh karena itu penulis

memberikan sebuah solusi yang penulis tuangkan dalam artikel yang berjudul

Cyberhealth App: Metode Terapi Berbasis Aplikasi Sebagai Solusi Pemulihan Bagi

Anak Korban Cyberbullying .


PEMBAHASAN

  CyberHealth App adalah sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu anak-anak

yang menjadi korban cyberbullying dalam mengatasi dampak psikologis yang

ditimbulkan oleh perlakuan tersebut. Aplikasi ini memiliki berbagai fitur yang bertujuan

untuk memberikan dukungan, solusi, dan pemulihan bagi anak-anak yang mengalami

tekanan dan trauma akibat cyberbullying. adapun tahapan tahapan atau tiap fitur yang

akan dilalui anak anak dalam masa pemulihan akibat cyberbullying ialah:

1. Fitur pertama dalam aplikasi, yang diberi nama 'Talk with Cyber,' membawa

pengalaman terapi yang mendalam dan sangat berarti. Melalui fitur ini, anak-anak

yang tengah mengalami trauma akibat dari pengalaman cyberbullying

mendapatkan peluang yang benar-benar tak ternilai untuk terlibat dalam

percakapan pribadi yang bermakna dengan para psikolog yang memiliki

pemahaman mendalam tentang situasi mereka. Dalam lingkungan yang tercipta,

dimana rasa aman dan kepercayaan terjaga, mereka tidak hanya mendapatkan

bantuan, tetapi juga dukungan yang sangat penting untuk mampu bangkit dari

beban psikologis yang merintangi perkembangan mereka. Fitur ini menghadirkan

wadah unik bagi anak-anak untuk berbicara tanpa batasan. Ini adalah panggung

di mana mereka bisa menceritakan pengalaman mereka dengan bebas, tanpa rasa


khawatir. Hal ini memberi kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan

cerita dengan semua emosi yang terlibat, sekaligus meredakan beban tekanan dan

kecemasan yang selama ini mereka rasakan akibat dampak cyberbullying.

Percakapan ini menjadi ruang yang menerangi jalan pemulihan mereka,

memungkinkan mereka untuk memulai proses menghadapi luka-luka dan

melangkah menuju pemulihan dengan dukungan yang kuat dari para ahli psikolog

yang berpengalaman.

2. Fitur kedua, yang dijuluki "StressRelief Zone," menawarkan solusi kreatif dan

menyenangkan untuk membantu anak-anak mengatasi tekanan stres yang mereka

alami akibat cyberbullying. Dalam fitur ini, anak-anak diberi kesempatan untuk

bermain game yang dirancang khusus dengan tujuan menghilangkan tekanan

pikiran dan memberi hiburan yang menyegarkan Dalam dunia yang semakin serba

digital, permainan dapat menjadi pelarian yang sehat dan efektif. Melalui pilihan

game yang beragam dan menarik, anak-anak dapat menemukan cara untuk

mengalihkan perhatian dari tekanan yang mereka hadapi. Ini tidak hanya

memberikan momen hiburan dan kelonggaran mental, tetapi juga membantu

mereka mengembangkan keterampilan dalam menghadapi tantangan dan

meresponsnya dengan cara yang positif. Fitur "StressRelief Zone" ini juga

memiliki nilai edukatif. Melalui permainan yang dirancang dengan cermat, anak-

anak dapat belajar tentang manajemen emosi, pemecahan masalah, dan 

ketekunan. Dengan melibatkan diri dalam permainan yang menyenangkan,

mereka bisa merasakan sejumlah kecil kemenangan dan keberhasilan, yang pada

akhirnya dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Dengan demikian, fitur

kedua ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat yang efektif untuk

membantu anak-anak melepaskan tekanan stres dan memulihkan keseimbangan

emosional mereka. Dalam menciptakan suasana yang positif dan menyenangkan,

fitur ini memberi mereka cara untuk menjaga kesejahteraan mental mereka di

tengah tantangan yang dihadapi.

3. Fitur Ketiga 'Friend Cyber' adalah suatu ruang yang dirancang secara khusus

untuk memberikan anak-anak yang tengah mengalami dampak cyberbullying

tempat yang aman dan nyaman, sebagaimana platform sosial media. Dalam ruang

ini, mereka diberikan peluang untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan saling

mendukung satu sama lain. Di sini, anak-anak memiliki kesempatan luar biasa

untuk berbicara tentang pengalaman mereka, kisah perjuangan yang telah mereka

hadapi, serta langkah-langkah positif yang berhasil mereka ambil untuk melewati

tantangan mental yang timbul akibat dari cyberbullying. Dalam suasana yang

penuh kepedulian, mereka dapat membuka hati tentang perasaan yang selama ini

mereka pendam. Ini adalah panggung tempat mereka bisa mengungkapkan

berbagai emosi, kekhawatiran, dan harapan tanpa takut dihakimi atau diremehkan.

  Fitur ini, dengan cermat dibangun sebagai wadah yang mendorong pertukaran

positif antara sesama korban cyberbullying. Kehadiran 'Friend Cyber' juga

mengilhami proses belajar dari satu sama lain. Dengan berbagi kisah dan strategi

yang berhasil, anak-anak ini bisa saling memberi dorongan serta inspirasi. Mereka

tidak lagi merasa sendirian, tetapi merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas

yang kuat, yang terdiri dari individu yang memahami persis apa yang mereka

alami

Selain tiga fitur diatas terdapat juga satu fitur yang di peruntukan bagi orang tua yakni

'Save Cyber' hadir dengan tujuan yang sangat berarti, yaitu memberikan orang tua kontrol

yang cerdas dan empatik dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka. Dalam dunia

yang semakin terhubung melalui teknologi, orang tua sering kali merasa perlu untuk

memahami lebih dalam mengenai apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka di

perangkat elektronik, terutama dalam hal ini, ponsel mereka. Dengan fitur 'Save Cyber,'

orang tua diberikan alat yang memungkinkan mereka untuk melihat aktivitas yang

dilakukan anak-anak mereka secara jarak jauh. Ini mencakup apa yang mereka lihat, apa

yang mereka akses, dan bagaimana mereka berinteraksi di dunia digital. Melalui

pemantauan ini, orang tua mendapatkan visibilitas yang penting untuk memahami pola

perilaku anak-anak mereka dalam lingkungan digital. Selain memberikan pandangan

lebih dalam tentang aktivitas anak-anak, fitur ini juga memiliki dampak yang sangat

berarti dalam konteks pencegahan dan pengamanan. Terutama dalam situasi yang sensitif

seperti cyberbullying, anak-anak cenderung merahasiakan pengalaman negatif mereka

dari orang tua. Mereka mungkin khawatir atau malu untuk berbicara tentang hal itu.

Namun, 'Save Cyber' hadir sebagai alat yang membantu orang tua mengenali tanda-tanda

ketidakamanan atau perundungan dalam lingkungan online. Dengan demikian, fitur 'Save

Cyber' bukan hanya sekadar alat pengawasan, tetapi juga sebagai pelindung yang peduli

terhadap kesejahteraan anak-anak. Ini memberikan orang tua informasi yang mereka

butuhkan untuk mendekati anak-anak mereka dengan kepedulian dan empati, serta

memberikan dukungan yang diperlukan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh

anak-anak di dunia maya.


KESIMPULAN

Pemanfaatan teknologi informasi di era digital membawa dampak positif dan negatif.

Salah satu dampak negatifnya adalah cyberbullying, terutama di kalangan anak-anak,

yang mengakibatkan dampak psikologis serius seperti kurangnya kepercayaan diri dan

bahkan potensi bunuh diri. Dalam konteks ini, CyberHealth App muncul sebagai metode

terapi berbasis aplikasi dengan fitur 'Talk with Cyber' (terapi mendalam), 'StressRelief

Zone' (meredakan stres), 'Friend Cyber' (tempat berinteraksi), dan 'Save Cyber'

(pemantauan oleh orang tua). App ini menjadi solusi penting dalam memulihkan

kesehatan mental anak-anak yang terkena dampak buruk cyberbullying.



Bijak Dengan Jarimu, Petik Manfaat Medsos

HIMIKOM

Bijak Dengan Jarimu, Petik

Manfaat Medsos

Oleh : Gloria Agita Bangun

Di era digital saat ini kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari media sosial,dari berbagai kalangan yaitu, anak-anak, remaja, sampai orang tua kini sudah bergantung pada media sosial. Namun, beberapa studi mengatakan bahwa penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat meningkatkan resiko seseorang terkena gangguan mental. Dilansir National Center for Health Research, remaja yang menghabiskan waktu lebih dari lima jam sehari di media sosial 71 persen lebih berpotensi untuk mengalami gangguan mental. Angka tersebut lebih besar dibandingkan remaja yang hanya mengakses media sosial satu jam dalam sehari.

 Media sosial merupakan sarana komunikasi dimana orang bias dengan bebas mengekspresikan dirinya, berbagi pemikiran, ide, selain itu media sosial juga menjadi wadah untuk melakukan bisnis, contohnya jual barang di shopee, tiktok shop atau Tokopedia, banyak juga orang yang memanfaatkan media social sebagai tempat untuk menceritakan atau merekam pengalaman hidupnya, memberikan konten edukasi dan masih banyak hal lain yang dapat kita lakukan.

 Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari media sosial, kita tidak hanya bisa berjualan di pasar atau membuka toko tapi juga bias mempromosikan barang yang kita jual di pasar online, yang membuat sumber penghasilan pun bertambah, kita bisa lebih mudah untuk mendapatkan informasi, dan masih banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Kita bisa mendapatkan manfaat dari media sosial jika kita bijak dalam menggunakannya, bagaimana kalau tidak bijak dalam menggunakan media sosial? Pasti banyak dampak negatif yang akan terjadi, contohnya bisa berdampak pada Kesehatan mental.

1. Gangguan mental karena media sosial

 Kebanyakan remaja saat ini sangat bergantung pada media sosial dan tak sedikit juga remaja yang tidak bijak dalam menggunakan media sosial, contohnya, dengan menggunakan media sosial mereka bisa menghina orang lain yang berdampak buruk pada orang yang dihina bahkan tak jarang juga ada yang bunuh diri karena mengalami pembulian di media sosial atau biasanya disebut dengan cyber bullying, banyak remaja yang mengalami kerusakan otak karena kebanyakan menonton film porno dan masih banyak lagi dampak negatif media sosial jika tidak bijak dalam menggunakannya.

 Dalam menggunakan media social tentunya kita harus punya batasan, contohnya adalah batasan waktu,banyak remaja mengalami insomnia atau kesusahan untuk tidur karena tidak bisa lepas dari smartphone-nya, mereka tidak akan bisa tidur jika mereka belum merasa puas, dan banyak juga remaja yang bias menghabiskan waktunya seharian penuh untuk bermain game online dimana hal ini sangatlah tidak baik dan bisa mempangaruhi kesehatan mental.

 Selain itu, jika seseorang sudah kecanduan dengan media sosial, ia akan menjauhkan dirinya dari kegiatan sosial atau bahkan dengan teman dekatnya karena ia akan merasa menghabiskan waktu dengan media sosial lebih asik daripada harus berinteraksi dengan orang sekitarnya, hal ini tentu saja mempengaruhi kesehatan mental orang tersebut dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

2. Kriteria kecanduan media sosial

 Media sosial seperti pedang bermata dua, ada sisi baik dan sisi buruknya. Menurut ilmu kedokteran jiwa tidak ada larangan dalam menggunakan media sosial selama tidak menimbulkan rasa kecanduan atau adiksi terhadap media sosial.

 Ketergantungan atau adiksi menyebabkan gangguan terhadap aspek biologis, psikologis dan sosial. Kecanduan media sosial memiliki mekanisme gangguan biologis di otak yang sama seperti adiksi yang ada di alkohol dan rokok.

 Pskiater dari divisi kedokteran jiwa rumah sakit Universitas Indonesia, Kristiane Siahaan mengatakan ada beberapa kriteria dari individu atauseseorang yang sudah kecanduan media sosial, kriterianya adalah sebagai berikut:

1.       Kecanduan kuat melihat media sosial terus menerus, susah membagi waktu antara dunia maya dan dunia nyata

2.       Terlalu sering kontak dengan media sosial

3.       Kesulitan menghentikan kebiasaan

4.       Menghabiskan durasi cukup lama bermedia sosial

5.       Mulai kehilangan minat dan hobi, jika seseorang sudah mulai kehilangan minat dan hobi maka kecanduannya sudah sangat parah dan bahaya.

6.       Merasa cemas dan gelisah saat tidak menggunakan media sosial

7.       Tidak bisa fokus dengan interaksi sosial

3. Tantangan dalam bermedia sosial

 Banyak tantangan yang akan kita hadapi dalam bermedia sosial, zaman sekarang media sosial sudah menjadi wadah untuk mencari nafkah dan juga wadah untuk mencari informasi, banyak informasi yang akan kita dapatkan, informasi yang sesuai fakta ataupun informasi yang tidak sesuai dengan fakta atau hoax. Informasi yang tak sesuai fakta adalah salah satu tantangan bagi kita, sebagai seorang pengguna media sosial, kita harus menjadi orang yang berpikir kritis, tidak langsung mempercayai berita yang disebarkan dari media, dan harus mencari tau kebenarannya.

  Zaman sekarang peran media social sangat penting bagi kehidupan manusia, jika media sosial semakin berkembang pasti banyak tantangan yang akan kita hadapi, contohnya, sekarang banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas menggunakan artificial intelligence (AI), AI merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan sistem komputer, perangkat lunak, program dan robot untuk “berpikir” secara cerdas layaknya manusia. Kecerdasan buatan suatu mesin dibuat oleh manusia melalui algoritma pemrograman yang kompleks.

 Banyak mahasiswa yang lebih memilih mengerjakan tugas menggunakan AI karena lebih cepat dan tidak perlu capek-capek untuk berpikir, ini tentu saja adalah contoh dampak negatif dan tantangan dari majunya media sosial, mahasiswa jadi tidak bisa berpikir kritis dan lebih mengandalkan media sosial untuk mengerjakan tugasnya, sebagai mahasiswa yang cerdas bagaimana kita bisa menghadapi tantangan ini? Tentu saja dengan tidak tergiur untuk mencoba dan membatasi diri dari kemajuan media sosial yang semakin canggih, ambilah hal positif dari media sosial yang bisa memajukan diri sendiri.

4. Solusi dalam menghadapi media sosial yang semakin maju

  Jika ada masalah atau tantangan yang dihadapi pasti ada solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Banyak solusi untuk menghadapi media sosial di era digital ini, salah satunya adalah mencoba untuk terbiasa mengatur waktu, biasanya kita bisa menghabiskan 4 jam atau 7 jam perhari di media sosial sekarang menjadi 2 atau 3 jam perhari, mengatur waktu dengan bijak kita pasti bisa lepas dari kecanduan dan membuat hidup kita semakin baik.

 Gunakanlah media sosial menjadi sumber pendapatan dalam hal positif, salah satu manfaat media social lainnya adalah, banyak lapangan kerja yang bisa kita dapatkan dan lakukan secara online, contohnya menjual hasil editan canva, bekerja sebagai freelance writer (penulis lepas) dan masih banyak lagi lapangan pekerjaan yang tersedia. Jika kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak pastil ah kita mendapatkan manfaat yang baik.

  Solusi lain untuk menghadapi media sosial di era digital adalah, membatasi diri dan juga membatasi anak kita dalam menggunakan media sosial. Sekarang sudah ada Youtube kids yang bisa digunakan untuk anak anak, banyak siaran yang layak untuk ditonton, hal seperti ini adalah contoh sebagai batasan pemakaian media sosial pada anak, memberikan perhatian lebih saat anak memegang handphone, berikan batasan waktu, antara bermain di media sosial dan bermain di dunia nyata.