Discourse Analysis

HIMIKOM
Discourse Analysis in communication science derived from Marxist Critical thinking. (Stephen W. Littlejohn, 2002; Stanley J. Baran and Denis K. Davis, 2000). There are three schools of thought that fall into this category, namely: (1). Teun A Van Dijk (2) The flow of Frankfurt (Frankfurt School), (3). Cultural Studies (Cultural Studies), (4). Women's Studies (Feminist Study).
Discourse analysis in the life of media also have a deep understanding. According to Norman Fairclough (1995), discourse is the language used to represent a social practice, from the point of view. Fiske, discourse must be interpreted as a statement or expression of more than one paragraph; W. O'Bar, discourse is the submission of ideas from one to another. (Stephen Harold Riggins, 1997); Eriyanto (2001), discourse is closely related to communication activities, which
substance can not be separated from words, language, or paragraph. In (Sobur Alex, 2001), discourse is a series or a series of said speech act that reveals something (the subject) are presented regularly, systematically, in a coherent whole, formed by elements of the segmental and nonsegmental language.
The emergence of discourse analysis, particularly in the field of text analysis gave birth to the different variants of media analysis that ultimately led to the interface between analytical model with each other. Model analysis of media texts and versions of Norman Fairclogh Teun A Van Dijk, for example, both emphasize text analysis based on social context. In the Indonesian version of the theory of analysis of media texts adapted quite well by Eryanto. In this book Eryanto analytical model compilation presents various media texts from various perspectives presented Foulcault, Roger Fowler, Theo van Leeuwen, Sara Mills, Teun A Van Dijk, and Norman Fairclouch text of newspapers with the example of Indonesia. Understanding the perspective of media texts Suroso also investigated by mapping four different perspectives Indonesia's pro media community, country, others, and neutral.
This paper wants to describe discourse analysis model Teun A van Dijk is in many respects continued its analysis by Norman Fairclouch models. To enrich the analysis of materials also alluded to the understanding of discourse and ideology in the press Roger Fowler, a newspaper analysis of cases of post reform in Indonesia

Tahun 2012, P3M Fisip Unib Ditiadakan

HIMIKOM
Bengkulu - Tahun 2012 mendatang, kegiatan Penalaran, Penelitian dan Pengabdian Mahasiswa atau biasa disebut P3M yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu ditiadakan. Keputusan ini ditetapkan kemarin (23/12) saat rapat koordinasi antara Pembatu Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fisip Unib Tamrin Bangsu bersama Ketua Jurusan dan Bupati Hima dari tiap-tiap Jurusan dan Prodi yang ada di lingkungan Fisip Unib. dalam rapat koordinasi ini juga turut hadir pejabat Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip Unib.

Rapat koordinasi yang diselenggarakan di ruang rapat utama Dekanat Fisip ini sempat memanas saat pihak fakultas mengajukan rekomendasi untuk mengadakan kegiatan P3M di awal masuk. dan KBS yang dilakukan Hima boleh diadakan tapi saat libur akhir semester Satu. Tentu ini mengundang reaksi keras dari HIMIKOM dan Hima ADMIRA yang selama ini selalu mengadakan KBS di awal masuk mahasiswa baru.

“Kalau kita laksanakan P3M diawal, saya kira ini lucu mengingat mahasiswa baru masih perlu banyak belajar bagaimana bersikap ditengah masyarakat banyak. Jangan sampai nanti malah akan membuat citra buruk bagi lembaga pendidikan Universitas Bengkulu” ujar Bupati HIMIKOM Edwin Syaputra, Bupati Hima ADMIRA Arizona juga menilai bahwa perlu ada pembenahan kembali kegiatan tahunan ini.

‘Saya menilai kegiatan P3M saat ini lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, jika memang ingin mengadakan kembali kita harus merancang dan memperbaiki terlebih dahulu secara keseluruhan mulai dari konsep hingga susunan kepanitiaan serta system pendanaan dari kegiatan ini.” TAmbah Arizona.

Setelah terjadi perdebatan yang cukup panjang, akhirnya diambillah alternative voting untuk menentukan apakah dari masing-masing Hima sepakat kembali mengadakan P3M pada tahun 2012 dan jadwalnya di awal masuk perkuliahan dan KBS dilaksanakan diakhir semester Satu.

Meskipun selisih suara hanya satu, yakni yang setuju P3M kembali diadakan 3 HIMA (HIMASOS, HIMA Jurnalistik, HIMA Sekretaris) dan yang menyatakan tidak sejuju ada 4 HIMA (HIMIKOM, HIMA Admira, HIMASTRA, HIMA KS) sedangkan HIMA Perpus dinyatakan Golput karena tidak hadir dalam rapat. Voting tersebut akhirnya menghasilkan keputusan untuk tahun 2012 mendatang P3M tidak diadakan.

Pertemuan ini diselenggarakan lantaran sebelumnya telah dilakukan Rapat Senat Fisip Unib dan menghasilkan salah satu keputusan yakni pihak Fakultas keberatan dengan menarik dana 2 kali dalam waktu berdekatan yakni untuk P3M dan untuk KBS.
Lalu akhirnya PD III mengambil keputusan untuk menentukan secara bersama-sama apakah P3M akan tetap diadakan atau tidak. Selain itu, PD III menilai KBS belakangan mengganggu perkuliahan mahasiswa baru.

Dalam pertemuan ini juga sempat ditawarkan mengadakan P3M dengan konsep baru. Akan tetapi tetap saja tidak mempengaruhi pendirian para perwakilan Hima untuk mentolerir rekomendasi dari pihak Fakultas.
(ewn)

Dramaturgi : Bentuk Lain Dari Komunikasi

HIMIKOM
Erving Goffman
Dramturgi : Bentuk Lain Dari Komunikasi - Bila Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Bila Aristoteles mengacu kepada teater maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi.
Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu. Hal ini setara dengan yang dikatakan oleh Yenrizal (IAIN Raden Fatah, Palembang), dalam makalahnya “Transformasi Etos Kerja Masyarakat Muslim: Tinjauan Dramaturgis di Masyarakat Pedesaan Sumatera Selatan” pada Annual Conference on Islamic Studies, Bandung, 26 – 30 November 2006: “Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya.”

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unib gelar pelatihan jurnalistik di Benteng Marlborough

HIMIKOM
Puluhan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unib gelar pelatihan jurnalistik di Benteng Marlborough, Bengkulu (18/12/11).

"Pelatihan ini sengaja digelar di benteng Marlborough untuk mendapatkan penyegaran karena bosan belajar di dalam ruang serta praktek dapat langsung dilakukan dengan pengunjung dan sekitar benteng," Kata Nurahmah salah seorang peserta, Minggu.






Pelatihan jurnalistik itu melibatkan beberapa praktisi jurnalistik dilakukan secara teratur setiap minggu.

Menurut dia, selama ini mahasiswa banyak mendapatkan teori di kelas tetapi jarang dipraktekkan di lapangan.

"Ternyata menjadi wartawan sulit juga karena selain dituntut dapat menulis dengan baik tetapi dituntut peka menangkap hal-hal yang bersifat psikologis untuk memperkuat tulisan,"tambah Gracea peserta lain.

Pelatihan jurnalistik dilakukan menggunakan metode bertukar pengalaman antar praktisi jurnalistik, diskusi dan praktek wawancara dengan pengunjung wisata Benteng Marlboroguh.

Beberapa pengunjung yang diwawancarai peserta pelatihan awalnya merasa terkejut dengan kehadiran "wartawan dadakan" itu.

"Saya bingung kok mendadak banyak wartawan yang mewawancarai kami, namun setelah mereka menjelaskan kalau itu praktek baru saya tertawa sendiri," Kata Dinda Pengunjung wisata Benteng Marlborough.

Benteng Marlborough merupakan benteng terbesar peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara terletak di Kota Bengkulu.

Sumber : Antara Bengkulu

Artikel | Globalisasi, Imprealisme dan Penyempitan Peradaban Dunia

HIMIKOM
Globalisasi, Imprealisme dan Penyempitan Peradaban Dunia - Konstelasi dunia dan peradaban manusia dimana pembangunan ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan beroperasi telah dan tengah berubah secara dramatis dewasa ini. Perubahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi oleh sebuah proses dimana terjadinya pengintensifan jaringan-jaringan hubungan sosial dan ekonomi yang luar biasa.
Globalisasi adalah penyebaran kebiasaan-kebiasaan mendunia, ekspansi hubungan yang melintasi benua, organisasi dari kehidupan sosial pada skala global dan pertumbuhan dari sebuah kesadaran global bersama. Globalisasi merupakan proses yang sedang terjadi di dunia dengan ditandai oleh perdagangan bebas antar negara, transnasional. Berdirinya lembaga-lembaga seperti World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF) merupakan lembaga penting yang berperan dalam arus globalisasi saat ini.
Globalisasi telah menjadi sebuah isu utama dalam wacana dunia. Berkait hal tersebut, telah pula berkembang banyak pemkiran yang mempertanyakan berbagai sisi di dalamnya; baik definis nya, konsekuensi, hingga berbagai kritik terhadap konsep globalisasi. Globalisasi awalnya memang sebuah fenomena, namun pada apa yang bisa dikaji secara teoritis. Paling tidak terdapat tiga kutub pemikiran dalam setiap perdebatan yang sering hadir dalam wacana-wacana akademis. kutub pemikiran yang menganggap globalisasi sebagai proses yang berdimensi ekonomi. kutub pemikiran yang mengasumsikan globalisasi sebagai proses politik. Kutub pemikiran yang meyakini globalisasi sebagai sebuah proses kultural. Dengan melihat globalisasi sebagai sebuah proses kultural yang tidak bisa ditolak oleh semua negara di dunia, termasuk Indonesia, seperti pengaruh masuknya kesenian-kesenian global terhadap eksistensi kesenian lokal-tradisional dan lahirnya keseniankesenian baru dinegara lain
Permasalahan mengenai munculnya globalisasi mendapatkan kritikan yang tajam dari teoritikus seperti Roland Robertson yang menggaris bawahi apa yang menjadi persoalan pokok dari globalisasi. Dengan mengajukan pertanyaan, “Apakah perubahan global menyebabkan homogenitas yang semakin meningkat atau heterogenitas yang semakin meningkat atau gabungan diantara keduanya?” dan Apa hubungan antara global dan lokal?”. Dua persoalan ini sangat erat berkaitan karena keunggulan lokal akan cenderung dihubungkan dengan heterogenitas sementara dominasi global akan lebih dihubungkan dengan homogenisasi. Kemudian persoalan selanjutnya adalah, “Apa yang mendorong proses globalisasi? Apa kekuatan penggeraknya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba dijawab dengan berbagai pemaparan, pada tulisan ini, dasar pemikiran yang dunakan adalah perspektif dari Ritzer dengan membahas kekuatan penggerak globalisasi seperti Kapitalisme, McDonaldisasi dan Amerikanisasi.
Dalam beberapa kajian, perubahan sosial dan ekonomi disebutkan sejalan dengan munculnya sejumlah terma/istilah yang ditandai dengan awalan “post”, seperti post-industrialism, post-structuralism dan post-modernism. Istilah-istilah tersebut menunjuk pada perdebatan dalam wacana ekonomi-politik dan perdebatan arus budaya.
Perubahan-perubahan atau transisi modernitas atau industrialisasi sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi-politik kapitalisme yang berporos pada ideologi neo-liberal, kapitalisme mengedepankan demokrasi liberal, hak azasi manusia dan ekonomi pasar bebas dimana sekarang telah menjadi pandangan hidup universal seluruh bangsa manusia.
Keunggulan dan kemenangan kapitalisme memang sangat mengesankan, dimana sistem ekonomi kapitalistik berhasil mengalahkan semua pesaingnya dari ideologi lain seperti komunis, otoriter, merkantilistik dan sosialis. Sebagai tanda kemenangan tersebut adalah hampir tak ada satupun negara yang saat ini bebas dari Coca-cola, Mcdonald, KFC dan Levis yang menjadi lambang supremasi corporate capitalism yang menguasai sistem ekonomi abad 21.
Tidak hanya ekonomi, kapitalisme juga menghardik dunia budaya, dalam kekinian proses tersebut disebut sebagai “Imprealisme budaya” atau “neo-imprealisme” dimana terjadi perubahan-perubahan berupa hibridisasi, difusi dan relativasasi, inilah yang dikatakan globalisasi telah menjadikan kompresi (penyempitan) peradaban dunia dan intensifukasi (meningkatkan) kesadaran dunia secara keseluruhan.

Artikel | Indonesia ku, Ibarat Ayam Mati Dilumbung Padi

HIMIKOM
INDONESIA, sebuah negara kaya sumber daya alam, berposisi strategis dunia dengan jumlah penduduk sangat menakjubkan yang menjadi potensi untuk kemajuan sebuah negara. Tapi kenyataannya negara ini dipenuhi oleh kemiskinan. Kemiskinan ekonomi rakyat, kemiskinan moral, kemiskinan penegakan hukum, kemiskinan etika politik. 



Seorang imam besar telah memperingatkan umat muslim, peringatan ini sangat sesuai  dengan keadaan Indonesia saat ini "Kehancuran masyarakat adalah berpangkal dari kebejatan para penguasanya. Sedangkan kebejatan penguasa berpangkal pada kerusakan moral para ulama. Sedangkan kerusakan moral ulama adalah berpangkal pada kegandrungan mereka terhadap harta, posisi strategis (pangkat) dan kemewahan dunia.Padahal, hati siapa saja yang telah dikuasai oleh gandrung dunia, ia tidak akan mungkin bisa membela kepentingan agama Allah, kendati terhadap rakyat jelata, apalagi menghadapi para penguasa dan pemerintah yang zalim".- Al Ghazali –

Menjadikan sebuah negara menjadi satu kesatuan yang solid yang memiliki stabilitas nasional yang bagus dengan proses kesadaran rakyat dan pemerintah tidak semudah membalikkan telapak  tangan, akan tetapi tidak sesulit menguras air di lautan. Hal itu membutuhkan kerja sama antara individu yang saling bersinergi menghasilkan power untuk membangun sebuah negara dari seluruh aspek kehidupan

Pada dasarnya, perbedaan dan pruralisme bukanlah sebab yang menjadikan manusia berpecah-belah. Karena Allah-lah yang manciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal dan saling menghormati perbedaan itu sendiri. Hakekat utama manusia adalah Zoon Politicon yang tidak bisa hidup sendiri sekaligus membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari hal ini lahirlah interaksi-interaksi sosial antara manusia dengan yang lain di segala dimensi kehidupannya. Sehinga, mereka membutuhkan seorang pemimpin yang adil dan memiliki integritas untuk mengatur interaksi tersebut, dengan negara sebagai wadahnya, dan undang-undang sebagai pagarnya.

Hmm.. Jika  saya umpamakan negara sebagai kapal, pemimpin negara adalah nahkodanya dan  undang-undang adalah aturan dalam kapal tersebut. Sang nahkodalah yang menentukan kemana kapal akan berlayar. Begitu juga pemimpin yang paling berkuasa menetukan jalannya pemerintahan dalam suatu negara.

Artikel | Surat kabar ; Antara Informasi dan Ideologi

HIMIKOM
Surat kabar ; Antara Informasi dan Ideologi - Kehadiran surat kabar merupakan pengembangan suatu kegiatan yang sudah lama berlangsung dalam dunia diplomasi dan di lingkungan dunia usaha. Surat kabar pada masa awal ditandai oleh wujud yang tetap, bersifat komersial (dijual secara bebas), memiliki beragam tujuan (memberi informasi, mencatat, menyajikan adpertensi, hiburan, dan desas-desus), bersifat umum dan terbuka.
Surat kabar lahir di abad tujuh belas di mana sudah terdapat pemisahan yang jelas antara surat kabar pemerintah dan surat kabar komersial. Namun, surat kabar pemerintah lebih sering dijadikan corong penguasa saat itu. Hal ini berbeda dengan surat kabar komersial. Pengaruh surat kabar komersial merupakan tonggak penting dalam sejarah komunikasi karena lebih menegaskan perannya dalam pelayanan masyarakat dan buka sebagai terompet penguasa.
Sejak awal perkembangannya surat kabar telah menjadi lawan yang nyata atau musuh penguasa mapan. Secara khusus, surat kabar pun memiliki persepsi diri demikian. Citra pers yang dominan dalam sejarah selalu dikaitkan dengan pemberian hukuman bagi para pengusaha percetakan, penyunting dan wartawan, perjuangan untuk memperoleh kebebasan pemberitaan, pelbagai kegiatan surat kabar untuk memperjuangkan kemerdekaan, demokrasi, dan hak kelas pekerja, serta peran yang dimainkan pers bawah tanah di bawah penindasan kekuatan asing atau pemerintahan diktator. Penguasa mapan biasanya membalas persepsi diri surat kabar yang cenderung tidak mengenakan dan menegangkan bagi kalangan pers.
Terlepas dari adanya kemunduran besar, sejarah juga mencatat adanya kemajuan yang pesat dan menyeluruh dalam rangka mewujudkan kebebasan mekanisme kerja pers. Kemajuan itu kadangkala menimbulkan sistem pengendalian yang lebih ketat terhadap pers. Pembatasan hukum menggantikan tindak kekerasan, termasuk penerapan beban fiskal. Dewasa ini, institusionalisasi pers dalam sistem pasar berfungsi sebagai alat pengendali sehingga surat kabar modern sebagai badan usaha besar justru menjadi lebih lemah dalam menghadapi semakin banyak tekanan dan campur tangan.
Lebih dari itu, penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas. Namun, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/latar belakang seorang penulis. Seorang penulis pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan.
Misalnya, analisis tentang Ekonomi Pancasila. Ekonom yang memiliki ideologi sosialis akan menulis dengan analisis yang dibumbui ideologi si penulis. Demikian pula dengan penulis yang memiliki latar belakang kapitalis. Meskipun keduanya memiliki data-data yang sama, tapi hasil analisis keduanya pasti akan memiliki cita rasa ekonomi sosialis dan kapitalis.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah analisis tersendiri terhadap isi berita sehingga akan diketahui latar belakang seorang penulis dalam menulis berita. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap pembaca itu sendiri. Pembaca akan lebih memahami mengapakah seorang penulis (atau institusi pers: Kompas, Republika, Jawa Pos, dan lain-lain) menulis berita sehingga seminimal mungkin menghindari terjadinya respon yang reaksional. Pembaca tidak akan fanatik terhadap salah satu institusi pers dengan alasan ideologi. Artinya, masyarakat akan lebih dewasa terhadap pers.
Jika anda berniat membuat sebuah penelitian tentang keberpihakan media dan mengetahui Ideologi Di Balik Berita maka Ada beberapa metode yang digunakan untuk menganalisa berita, yaitu analisis isi (content analysis), analisis bingkai (frame analysis), analaisis wacana (disccourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Semuanya memiliki tujuan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan target pelaku analisis.

12 Jenis Kualitas Gambar Film

HIMIKOM

12 Jenis Kualitas Gambar Film - Jika kita menonton film atau Video di komputer terdapat film atau video dengan kualitas gambar yang berbeda-beda, terutama ketika anda menonton hasil dari download.
Ada 12 jenis istilah dari Kualitas Gambar Film, berikut penjelasannya
1. Bluray/HD
Bluray/HD : Resolusi jauh lebih besar yaitu 1920×1080 atau 1280×720 (tergantung filenya).

EVENT | COMMA Anniversary

HIMIKOM
Menyambut ulang tahun Commucation Cinema Community ke 5, Comma mengadakan Lomba lip sing dan Photograpy dengan ketentuan lomba:


Lomba LIP SING
  • Peserta adalah Mahasiswa dan Pelajar
  • Durasi 1 lagu (lagu bebas)
  • Pemeran video lip sing tidak terbatas
  • Video diserahkan dalam bentuk CD dengan format bebas
  • Video boleh diserahkan sebanyak mungkin
  • Video dikemas se-kreatif mungkin
Lomba PHOTOGRAPY
  • Peserta adalah Mahasiswa dan Pelajar
  • Tema photo bebas
  • Durasi film 5 menit hingga 15 menit
  • Film dikumpul dalam bentuk DVD dengan format MPEG/AVI dan sinopsis
  • Film adalah hasil karya sendiri, dan belum pernah diikutkan dalam lomba sebelumnya
  • Melampirkan Biodata peserta
  • Biaya pendaftaran Rp 50.000,-
Pendaftaran setiap item Rp. 10.000,- di GKB II Universitas Bengkulu pada tanggal 20 November 2011 - 14 Desember 2011, dan pengumuman pemenang pada tanggal 17 Desember 2011

Komunikasi Non Verbal

HIMIKOM
Komunikasi Non Verbal - Komunikasi memiliki beberapa pengertian, antara lain merupakan sebuah proses interaksi sosial antara dua atau lebih individu yang mencoba saling mempengaruhi dalam hal ide, sikap, pengetahuan, dan tingkah laku. Selain itu komunikasi juga di definisikan sebagai proses memberitahukan dan menyebarkan pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud utk menggugah partisipasi, agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. Seperti yang telah kita ketahui, komunikasi terdiri dari dua jenis yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal merupakan proses komunikasi melalui bahasa dan kata-kata yang diucapkan.
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi non verbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
Para ahli di bidang komunikasi non verbal biasanya menggunakan definisi "tidak menggunakan kata" dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi non verbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.

A. Fungsi Pesan Non-Verbal
Rakhmat (1985) menjelaskan bahwa komunikasi non-verbal memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1. Repetisi
Di sini komunikasi non-verbal memiliki fungsi untuk mengulang kembali gagasan yang disajikan secara verbal. Misalnya setelah seseorang menjelaskan penolakannya terhadap suatu hal, ia akan menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menjelaskan penolakannya.
2. Substitusi
Di sini komunikasi non-verbal memiliki fungsi untuk menggantikan lambing-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun seseorang berkata, ia dapat menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukkan kepala.
3. Kontradiksi
Di sini komunikasi non-verbal memiliki fungsi untuk menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya seseorang memuji prestasi rekannya dengan mencibirkan bibirnya sambil berkata: “Hebat, kau memang hebat”.
4. Komplemen
Di sini komunikasi non-verbal memiliki fungsi untuk melengkapi dan memperkaya makna pesan non-verbal. Misalnya air muka seseorang menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
5. Aksentuasi
Di sini komunikasi non-verbal memiliki fungsi untuk menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya seseorang mengungkapkan kejengkelannya sambil memukul mimbar.

B. Pentingnya Komunikasi Non-Verbal Dalam Komunikasi Sehari-Hari
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa alasan lagi mengapa komunikasi non-verbal memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Leathers (1976):
1. Faktor-faktor non-verbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal
Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatap muka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan non-verbal. Pada gilirannya orang lain pun lebih banyak membaca pikiran-pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk non-verbal. Menurut Birdwhistell tidak lebih dari 30%-35% makna sosial percakapan atau interaksi dilakukan dengan kata-kata, dan sisanya dilakukan dengan pesan non-verbal.
2. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan non-verbal ketimbang pesan verbal.
Menurut Mahrabian (1967), hanya 7% perasaan kasih sayang dapat dikomunikasikan dengan kata-kata. Selebihnya, 38% dikomunikasikan lewat suara, dan 55% dikomunikasikan melalui ungkapan wajah (senyum, kontak mata, dan sebagainya).
3. Pesan non-verbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancauan
Pesan non-verbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar. Misalnya sejak zaman prasejarah, wanita selalu mengatakan “tidak” dengan lambing verbal, tetapi pria jarang tertipu. Mereka tahu ketika “tidak” diucapkan, seluruh anggota tubuhnya menyatakan “ya”. Kecuali actor-aktor yang terlatih, kita semua lebih jujur berkomunikasi melalui pesan non-verbal. Hal yang kadang kemudian terjadi adalah double binding dimana ketika pesan non-verbal bertentangan dengan pesan verbal, orang pada akhirnya akan bersandar pada pesan non-verbal.
4. Pesan non-verbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi
Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan. Di atas telah dipaparkan mengenai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi. Semua ini menambah kadar informasi dalam penyampaian pesan.
5. Pesan non-verbal merupakan cara berkomunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal.
Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi (lebih banyak lambang dari yang diperlukan), repetisi, ambiguity, dan abstraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal daripada secara nonverbal.
6. Pesan non-verbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat
Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan atau emosi secara tidak langsung. Sugesti di sini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implicit. Leathers (1976) menyatakan bahwa jika anda meminta pelayanan seksual dari anak di bawah umur secara verbal, anda dapat menerima hukuman pernjara. Jika anda melakuka hal yang sama secara non-verbal, anda bebas dari hukuman. Kita dapat memuji seseorang secara verbal, tetapi mengecamnya secara non-verbal. Inipun sulit dituntut secara hukum.

C. Jenis-Jenis Pesan Non-Verbal
Duncan (dalam Rakhmat, 1985) menyebutkan terdapat beberapa jenis pesan non-verbal, yaitu:
1. Pesan kinesik
Pesan kinesik merupakan pesan yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti. Pesan ini terdiri dari tiga kompunen utama yaitu:
a. Pesan fasial
Pesan ini menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna : kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian tentang wajah sebagai berikut:
· Wajah mengkomunikasikan penilaian tentang ekspresi senang dan tak senang, yang menunjukkan komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk.
· Wajah mengkomunikasikan minat seseorang kepada orang lain atau lingkungan.
· Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam suatu situasi.
· Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataannya sendiri.
· Wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurangnya pengertian.
b. Pesan gestural
Menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. Menurut Galloway, pesan ini berfungsi untuk mengungkapkan:
· Mendorong/membatasi.
· Menyesuaikan/mempertentangkan.
· Responsif/tak responsif.
· Perasaan positif/negatif.
· Memperhatikan/tidak memperhatikan.
· Melancarkan/tidak reseptif.
· Menyetujui/menolak.
Pesan gestural yang mempertentangkan terjadi bila pesan gestural memberikan arti lain dari pesan verbal atau pesan lainnya. Pesan gestural tak responsif menunjukkan gestur yang yang tidak ada kaitannya dengan pesan yang diresponnya. Pesan gestural negatif mengungkapkan sikap dingin, merendahkan, atau menolak. Pesan gestural tak responsive mengabaikan permintaan untuk bertindak.
c. Pesan postural
Berkaitan dengan keseluruhan anggota badan. Mehrabian menyebutkan tiga makna yang dapat disampaikan postur:
· Immediacy
Merupakan ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong kea rah lawan bicara menunjukkan kesukaan atau penilaian positif.
· Power
Mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator.
· Responsiveness
Individu mengkomunikasikannya bila ia bereaksi secara emosional pada lingkungan, baik positif maupun negatif.

2. Pesan proksemik
Pesan ini disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Pada umumnya, dengan mengatur jarak, kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain. Pesan ini juga diungkapkan dengan mengatur ruangan objek dan rancangan interior. Pesan ini dapat mengungkapkan status sosial ekonomi, keterbukaan, dan keakraban.

3. Pesan artifaktual
Pesan ini diungkapkan melalui penampilan, body image, pakaian, kosmetik, dll. Umumnya pakaian kita pergunakan untuk menyampaikan identitas kita, yang berarti menunjukkan kepada orang lain bagaimana perilaku kita dan bagaimana orang lain sepatutnya memperlakukan kita. Selain itu pakaian juga berguna untuk mengungkapkan perasaan (misal pakaian hitam berarti duka cita) dan formalitas (misal sandal untuk situasi informal dan batik untuk situasi formal)

4. Pesan paralinguistik
Merupakan pesan non-verbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan dengan cara yang berbeda. Hal-hal yang membedakan antara lain : nada, kualitas suara, volume, kecepatan, dan ritme. Secara keseluruhan, pesan paralinguistik merupakan alat yang paling cermat unuk menyampaikan perasaan kita kepada orang lain.

5. Pesan sentuhan dan bau-bauan
Berbagai pesan atau perasaan dapat disampaikan melalui sentuhan, tetapi yang paling sering dikomunikasikan antara lain : tanpa perhatian (detached), kasih saying (mothering), takut (fearful), marah (angry), dan bercanda (playful).
Bau-bauan telah digunakan manusia untuk berkomunikasi secara sadar maupun tidak sadar. Saat ini orang-orang telah mencoba menggunakan bau-bauan buatan seperti parfum untuk menyampaikan pesan.
DAFTAR PUSTAKA
Leathers, D.G. 1976. Nonverbal Communication System. Sydney : Allyn and Bacon, Inc.
Rakhmat, J. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosadakarya 

Analisis Dramaturgi

HIMIKOM
Dramaturgi -  konsep Dramaturgi dikembangkan oleh Erving Goffman untuk memahami interaksi simbolik dan fungsi sosial dari bahasa dan drama  Berikut kita membahas tentang Dramaturgi

SEJARAH DRAMATURGI
Dramaturgi diperkenalkan pada 1945 Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau