Respons Maraknya Kekerasan di Kampus Nasional, Universitas Bengkulu Optimalkan Satgas PPKPT demi Keamanan Akademis

HIMIKOM


 



BASKOM ONLINE| 27 MEI 2026| LATIFAH RABBANIYAH

BENGKULU - Maraknya kasus kekerasan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mendorong Universitas Bengkulu memperkuat peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) dalam menciptakan lingkungan akademis yang aman.

Satgas PPKPT sendiri merupakan unit fungsional universitas yang dibentuk berdasarkan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan memiliki mandat khusus sebagai garda terdepan dalam melakukan pencegahan, pelaporan, penanganan serta pendampingan korban kekerasan di lingkup kampus.

 Anggota Satgas PPKPT UNIB, Putri Damayanti, menjelaskan bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah melakukan pencegahan melalui sosialisasi, edukasi, serta penyebaran informasi secara luas kepada seluruh civitas akademika. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 9 laporan telah masuk, dengan 7 kasus telah diselesaikan sementara 2 lainnya masih dalam proses penanganan.

Upaya penguatan dilakukan melalui diskusi dan evaluasi internal secara rutin untuk memperkuat sistem pencegahan di lingkungan kampus. Selain itu, Satgas PPKPT UNIB kini lebih aktif di media sosial guna memastikan mahasiswa mengetahui kanal pelaporan yang tersedia.

Meski langkah tersebut diapresiasi, implementasi penanganan di lapangan dinilai masih menghadapi hambatan. Pemerhati Isu Kampus, Elsa M. Cik Nur, menyoroti durasi penanganan kasus yang rata-rata memakan waktu tiga hingga tujuh hari kerja. Menurutnya, proses yang terlalu lama dapat memberikan kesan kepada korban bahwa laporan mereka tidak ditangani secara serius.

"Secara kebijakan, Universitas sudah menunjukkan keseriusan dengan adanya Satgas, tapi penanganannya butuh waktu lama. Selain itu, Satgas tidak memiliki wewenang langsung untuk memberi hukuman kepada pelaku, hanya sebatas rekomendasi," ujar Elsa M. Cik Nur saat diwawancarai.

Menanggapi hal tersebut, Putri mengklarifikasi bahwa proses penanganan memang membutuhkan waktu karena harus melalui tahapan verifikasi, pemeriksaan saksi, hingga asesmen psikologis. "Proses ini tidak bisa instan karena kami harus menyesuaikan dengan kesiapan kondisi korban agar pemeriksaan berjalan objektif," tegasnya.

Satgas mengakui kendala terbesar saat ini adalah masih banyaknya pihak yang belum berani melapor karena faktor rasa takut atau malu. Maka dari itu, Satgas PPKPT kini gencar menyebarkan informasi melalui media sosial dan memasang atribut informasi guna memudahkan akses pengaduan bagi mahasiswa.

Ke depan, mahasiswa didorong untuk terus aktif mengawal isu kekerasan di lingkungan kampus, termasuk melalui media sosial. "Isu sering kali lebih cepat ditanggapi ketika menjadi perhatian publik. Mahasiswa bisa bersuara melalui story atau unggahan sebagai bentuk solidaritas terhadap pelapor," ujar Elsa M. Cik Nur menutup pembicaraan.

Pernyataan tersebut selaras dengan harapan Satgas PPKPT UNIB yang menekankan bahwa menciptakan kampus aman bukan hanya tugas satu unit kerja saja. Putri Damayanti menegaskan bahwa keberhasilan menciptakan kampus aman tidak bisa hanya bergantung pada kinerja tim internal, melainkan dukungan dan keterlibatan aktif dari mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai sistem pendukung utama di lapangan.

Sejalan dengan hal tersebut, mahasiswa didorong untuk terus berperan aktif dalam mengawal isu-isu kekerasan yang belakangan ini viral dan menjadi perhatian publik. Melalui kerja sama antara pengawasan mahasiswa dan prosedur resmi Satgas, Universitas Bengkulu diharapkan benar-benar mampu mewujudkan ruang akademik yang aman dan bagi semua civitas akademik.

Nilai Rupiah Anjlok ke Titik Terlemah, Kekhawatiran Ekonomi Kian Menguat

HIMIKOM

 


Sumber: Kompas.com

BASKOM ONLINE| 27 MEI 2026| ARESKA ANJELINA

Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor kelam. Dalam beberapa hari terakhir hingga pertengahan Mei 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp 17.500 per dolar AS, mendekati titik terlemah dalam sejarah perdagangan mata uang Indonesia. Rupiah kini telah melemah sekitar 7 persen sejak konflik Timur Tengah meletus pada akhir Februari lalu. Angka ini melampaui level terlemah yang pernah dicapai bahkan pada puncak Krisis Keuangan Asia 1997-1998.

Sejumlah ekonom menilai perlemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi kondisi fundamental ekonomi dalam negeri juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, juga menyebutkan bahwa defisit anggaran dan meningkatnya arus keluar modal asing menjadi salah satu penyebab utama melemahnya nilai tukar rupiah.

Nailul Huda mengatakan “Ada kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Akhirnya banyak uang yang keluar atau terjadi capital outflow,” ujarnya. Investor dinilai mulai khawatir terhadap kondisi fiskal Indonesia sehingga memilih menarik dananya dari pasar domestik.

Melemahnya rupiah ini juga dikhawatirkan akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Harga barang impor, bahan baku industri, hingga kebutuhan hidup sehari-hari berpotensi mengalami pelonjakan harga. Beberapa sektor seperti elektronik, farmasi, otomotif, dan pangan diperkirakan menjadi sektor yang paling terdampak akibat tingginya ketergantungan terhadap barang impor.

Ekonom juga memperingatkan bahwa jika perlemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, daya beli masyarakat bisa menurun dan laju inflasi pun meningkat. Para pelaku usaha pun terancam menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat memengaruhi ekspansi bisnis dan penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, Bank Indonesia dan pemerintah disebut terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga rupiah agar tidak semakin turun dan melemah. Intervensi pasar valuta asing, penguatan pasar obligasi, hingga pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar dilakukan guna menjaga kestabilan ekonomi nasional.

Meski pemerintah optimistis kondisi ekonomi masih bisa terkendali, perlemahan nilai rupiah tetap menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi inflasi, biaya hidup masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Viral di Media Sosial, Cerdas Cermat MPR RI Diprotes karena Dugaan Ketidakadilan Penilaian

HIMIKOM

 


Sumber : Detik.com

BASKOM ONLINE| 17 MEI 2026| AGHA KHANUM SAIFULLAH

    Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026) viral setelah video unggahan yang diduga menunjukkan adanya kecurangan dari dewan juri.

    Dalam video tersebut, peserta memperoleh pertanyaan tentang proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Lalu, Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjawab terlebih dahulu.

    "Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," kata perwakilan Grup C.

    Namun jawaban tersebut dianggap salah oleh juri dan mendapat nilai minus lima. Lalu, kesempatan menjawab diberikan kepada Grup B dari SMAN 1 Sambas.

    "Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," kata perwakilan Grup B.

    Jawaban kedua tim terlihat sama dan memicu berbagai reaksi dari netizen. Namun, Grup B diberi nilai 10 oleh juri yang sama, yaitu Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita Widya Budi.

    Karena merasa tidak adil, perwakilan dari Grup C mencoba memberitahu juri bahwa jawaban yang Grup C dan Grup B berikan tidak memiliki perbedaan. Juri menanggapi protes tersebut dengan mengatakan bahwa jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dengan jelas.

    "Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi, jadi Dewan Juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah," kata Dyastasita.

    Juri-juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, Indri Wahyuni menyebut perbedaan nilai karena artikulasi peserta dari SMAN 1 Pontianak dinilai kurang jelas.

    "Begini ya, kan sudah diperingatkan dari awal ya, artikulasi itu penting ya. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5. Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan ya," ujar Indri.

    MC dalam acara tersebut juga mengimbau peserta untuk menerima keputusan dewan juri dan menyebut para juri yang hadir telah berkompeten di bidangnya, serta menyebut bahwa sanggahan dari Grup C hanya merupakan perasaan mereka.

    Setelah video cerdas cermat tersebut viral di media sosial dan memicu kemarahan netizen, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden ini. Ia juga menyampaikan akan melakukan evaluasi agar kejadian ini tidak terulang.




Diet Bukan Soal Kurus, Tapi Cara Kita Berdamai dengan Tubuh

HIMIKOM

 


BASKOM ONLINE | 3 MEI 2026 | ARINI MUTIARA SARI

Di tengah tren tubuh ideal yang terus beredar di media sosial, diet sering kali dimaknai sekadar upaya menurunkan berat badan. Padahal, di balik itu, ada cerita yang lebih dalam tentang bagaimana seseorang belajar memahami tubuhnya sendiri.

Bagi sebagian orang, kata “diet” mungkin terdengar melelahkan. Terbayang aturan makan yang ketat, berbagai pantangan, sampai rasa bersalah setiap kali melanggar pola makan. Tidak sedikit yang akhirnya menyerah di tengah jalan karena sebagian orang merasa diet adalah sesuatu yang menyiksa.

 Namun, belakangan ini mulai banyak yang memandang diet dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar mengejar angka di timbangan, tapi lebih ke membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dan tubuh. Seperti yang dirasakan oleh banyak anak muda saat ini, diet tidak harus selalu ekstrem. Mengurangi minuman manis, mulai rutin sarapan, atau sekadar memperbanyak minum air putih sudah menjadi langkah kecil yang berarti. Hal-hal sederhana ini justru lebih mudah dijalani dan terasa “ringan” tanpa tekanan berlebih.

 Selain itu, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental juga mulai memengaruhi cara orang berdiet. Tidak sedikit yang kini lebih memilih pendekatan mindful eating makan dengan sadar, menikmati setiap suapan, tanpa rasa terburu-buru atau rasa bersalah. Dengan cara ini, makan bukan lagi musuh, melainkan bagian dari perawatan diri. 

 Media sosial memang masih dipenuhi berbagai standar tubuh ideal, tapi perlahan muncul juga suara-suara yang lebih realistis. Banyak konten kreator yang mulai berbagi perjalanan diet mereka apa adanya dengan naik turunnya, dengan kegagalannya, bahkan dengan momen “cheat day” yang manusiawi. 

 Hal ini membuat banyak orang menilai diet terasa lebih dekat dan tidak lagi menakutkan. Pada akhirnya, diet bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, tapi siapa yang paling konsisten menjaga dirinya sendiri. Karena tubuh bukan proyek jangka pendek, melainkan tempat kita hidup setiap hari. Mungkin sudah saatnya kita berhenti melihat diet sebagai hukuman. Sebaliknya, jadikan ia sebagai bentuk perhatian kecil untuk diri sendiri. Tidak harus sempurna, yang penting berproses pelan, tapi pasti.