Warga Ende Tolak Pembongkaran Sekolah Dasar demi Proyek Kopdes Merah Putih

HIMIKOM

 


Sumber: Kompas.id

BASKOM ONLINE| 18 JUNI 2026| MARIA MEILANY 

Rencana pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) di Desa Niawula, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menuai penolakan dari warga. Penolakan muncul setelah sebagian area sekolah dasar setempat disebut akan dibongkar untuk dijadikan lokasi pembangunan koperasi. 


Aksi penolakan terjadi ketika alat berat datang ke lokasi sekolah. Orang tua murid, guru, dan masyarakat setempat berkumpul untuk menghentikan proses pembongkaran yang dinilai dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Video penolakan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan menarik perhatian publik. 


Warga menilai keberadaan sekolah lebih mendesak untuk dipertahankan karena masih digunakan oleh para siswa. Mereka khawatir pengurangan fasilitas pendidikan akan berdampak pada akses belajar anak-anak di wilayah tersebut. Penolakan juga muncul di tengah perhatian terhadap masih tingginya angka anak yang putus sekolah di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan puluhan ribu siswa tingkat sekolah dasar masih mengalami putus sekolah setiap tahunnya. 


Di sisi lain, pemerintah terus mendorong pembentukan Kopdes Merah Putih sebagai program nasional yang bertujuan memperkuat ekonomi desa, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian ekonomi pedesaan. Hingga pertengahan 2025, puluhan ribu koperasi desa telah memperoleh pengesahan hukum dan pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 80.000 koperasi di seluruh Indonesia. 


Peristiwa di Ende memunculkan perdebatan mengenai keseimbangan antara pembangunan ekonomi desa dan perlindungan fasilitas pendidikan. Warga berharap pemerintah dapat mencari lokasi alternatif sehingga pembangunan koperasi tetap berjalan tanpa mengorbankan sarana pendidikan yang masih dibutuhkan masyarakat. 

Instagram dan Facebook Error Bersamaan dengan Demo Mahasiswa di Jakarta, Meta Beri Klarifikasi

HIMIKOM
 
Sumber: CNBC Indonesia 


BASKOM ONLINE| 17 JUNI 2026| MARIA MEILANY 

Dua platform media sosial raksasa di bawah naungan Meta, Instagram dan Facebook, sempat mengalami gangguan massal (down) pada kemarin hari. Uniknya, tumbangnya layanan ini terjadi bersamaan dengan momentum aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar oleh aliansi mahasiswa di sejumlah titik strategis di Jakarta.

Akibatnya, sempat muncul spekulasi liar di kalangan warganet yang mengaitkan gangguan teknis ini dengan upaya pembatasan informasi atau sensor digital (Throttling) selama aksi demonstrasi berlangsung.

Kronologi Gangguan dan Keluhan Pengguna

Gangguan mulai dirasakan pengguna sejak siang hingga sore hari, tepat saat massa aksi sedang padat-padatnya memadati jalanan ibu kota. Berdasarkan pantauan di lapangan dan lini masa media sosial lainnya (seperti X/Twitter), keluhan utama pengguna meliputi:

a. Gagal Memuat Lini Masa: Pengguna tidak bisa memperbarui (refresh) halaman utama (feed) Instagram maupun Facebook.

b. Gagal Unggah Konten: Cerita (Instagram Stories), unggahan foto, dan video Reels gagal diunggah secara konstan.

c. Pesan Masuk Tertahan: Fitur pesan langsung (Direct Message/DM) mengalami delay yang cukup parah.

d. Sesi Keluar Otomatis: Beberapa pengguna Facebook bahkan mengeluhkan akun mereka tiba-tiba log-out dengan sendirinya.

Kondisi ini sempat menyulitkan para mahasiswa, jurnalis, dan masyarakat sipil di lapangan yang ingin membagikan laporan pandangan mata secara real-time terkait situasi demonstrasi di Jakarta.

Spekulasi Sensor Digital di Tengah Aksi Massa

Karena terjadi tepat di tengah momen krusial politik dan pergerakan mahasiswa, isu mengenai adanya "intervensi digital" atau pembatasan kuota internet sengaja (down-throttling) sempat mencuat dan memicu kepanikan. Banyak warganet menduga pemerintah atau pihak tertentu sengaja mematikan akses untuk meredam penyebaran dokumentasi unjuk rasa agar tidak viral.

"Awalnya kami kira sinyal di sekitar lokasi demo yang di-jamming (diacak), tapi ternyata teman-teman yang di rumah dan di luar Jakarta juga mengeluhkan Instagram tidak bisa dibuka," ujar salah satu pengguna di media sosial X.

Meta Buka Suara: Murni Kendala Teknis Internal

Melihat kegaduhan dan spekulasi yang berkembang di Indonesia, Meta selaku perusahaan induk Instagram dan Facebook langsung buka suara untuk memberikan klarifikasi resmi.

Pihak Meta dengan tegas membantah adanya unsur kesengajaan atau keterkaitan antara tumbangnya layanan mereka dengan aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta. Meta menyatakan bahwa gangguan tersebut murni disebabkan oleh masalah teknis internal pada sistem server global mereka yang berdampak pada beberapa wilayah, termasuk Indonesia.

"Kami menyadari bahwa beberapa pengguna mengalami kesulitan mengakses aplikasi kami hari ini. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan," tulis perwakilan Meta dalam keterangan resminya.

Meta juga menambahkan bahwa tim teknis mereka langsung bergerak cepat setelah mendeteksi adanya anomali sistem. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap demi memastikan stabilitas data pengguna.

Layanan Kembali Normal

Setelah sempat lumpuh selama beberapa jam, menjelang malam hari layanan Instagram dan Facebook dilaporkan sudah mulai berangsur pulih. Pengguna kembali bisa mengunggah konten, mengirim pesan, dan mengakses halaman utama dengan normal.

Meskipun murni masalah teknis, insiden ini memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan masyarakat modern terhadap platform Meta sebagai kanal komunikasi utama, terutama dalam mengawal isu-isu sosial dan politik penting di tanah air.