BASKOM ONLINE| 22 AGUSTUS 2026| MARIA MEILANY.L
Jumlah warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat rentetan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami lonjakan signifikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total pengungsi kini telah menembus angka 110.785 jiwa per Jumat (21/8/2026) malam.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebanyak 18.050 orang jika dibandingkan dengan data hari sebelumnya yang berada di posisi 92.735 jiwa. Selain lonjakan pengungsi, pemutakhiran data BNPB turut mencatat korban meninggal dunia bertambah menjadi 83 orang, sementara 986 warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan tengah mendapatkan penanganan medis.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengungkapkan bahwa peningkatan arus pengungsi terutama dipicu oleh kekhawatiran warga terhadap gempa susulan yang masih terus mengguncang kawasan Pulau Flores dan sekitarnya. Sejak gempa utama bermagnitudo 7,7 melanda, tercatat telah terjadi ribuan kali aktivitas seismik susulan dengan magnitudo bervariasi.
Guncangan susulan tersebut juga sempat memperparah kerusakan infrastruktur fisik di sejumlah wilayah, termasuk amblasnya ruas jalan Wae Gongger serta jembatan Wae Dampak di Kabupaten Manggarai Timur. Kendati demikian, percepatan pemulihan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum berhasil menormalkan kembali sembilan ruas jalan nasional, termasuk jalur vital penghubung Kabupaten Ende dan Nagekeo sehingga mobilitas penyaluran bantuan dapat beroperasi kembali.
Secara akumulatif, gempa bumi ini telah merusak sedikitnya 44.946 unit rumah warga di berbagai tingkatan. Dari total tersebut, sebanyak 17.176 unit dilaporkan mengalami rusak berat, 9.758 unit rusak sedang, dan 18.013 unit rusak ringan. Sebaran kerusakan rumah kategori berat paling banyak terpusat di tiga wilayah, yakni Kabupaten Manggarai Timur dengan 5.962 unit, Manggarai sebanyak 3.146 unit, dan Manggarai Barat mencapai 3.050 unit.
Menanggapi kebutuhan darurat di lapangan, BNPB memastikan rantai pasok logistik terus dipercepat. Sepanjang periode 15 hingga 21 Agustus 2026, total sebanyak 776 ton barang bantuan telah diberangkatkan ke NTT. Berton menegaskan, penyaluran bantuan dari Pos Pendamping Logistik Nasional dioptimalkan melalui integrasi moda transportasi udara via Labuan Bajo, armada laut, hingga jalur darat guna memastikan pasokan makanan, obat-obatan, dan tenda darurat benar-benar sampai ke tangan warga di titik-titik pengungsian.

0 comments:
Post a Comment