BASKOM ONLINE| 22 AGUSTUS 2026| MARIA MEILANY.L
Kepulan asap pekat kembali menyelimuti sebagian besar wilayah Kalimantan menyusul lonjakan titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa pekan terakhir. Krisis yang diperparah fenomena iklim El Nino ini kian mencekik kehidupan warga, melumpuhkan roda perekonomian mikro, hingga memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan.
Di Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kabut asap bahkan telah merangsek mendekati kawasan permukiman. Riri Jayanti (38), warga setempat, mengaku harus berkejaran dengan pekatnya asap saat menyiapkan anak-anaknya ke sekolah sebelum akhirnya pemerintah daerah memberlakukan penundaan jam masuk kelas.
"Pernah hujan sesekali, katanya hujan buatan. Tapi sebulan belakangan tidak ada hujan sama sekali," kata Riri. Ia bersama warga sekitar sempat panik dan menyiramkan air dengan alat seadanya demi membendung rembetan api ke arah rumah tinggal dan kandang ternak.
Dampak ekonomi langsung dirasakan Abdul Kholik (38), peternak ayam di Landasan Ulin Selatan. Percikan materi kebakaran atau kelelatu yang terbawa angin membakar kandang miliknya hingga menewaskan 230 ekor ayam. Kerugian ditaksir mencapai Rp50 juta. Beban tersebut kian berat lantaran istrinya yang tengah hamil tiga bulan kini mengalami sesak napas akut.
Kondisi udara di Banjarbaru dilaporkan menyentuh level berbahaya dengan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) menembus angka 400 mikrogram per meter kubik. Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Banjarbaru, Siti Ningsih, mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus lebih dari 1.000 kasus per pekan, dengan akumulasi mencapai 23.646 kasus sejak awal tahun.
Pemandangan serupa terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan Pontianak, Kalimantan Barat. Pemerintah Kota Palangka Raya menerapkan sistem pembelajaran daring bagi jenjang PAUD dan mengundur jam masuk siswa SD demi meminimalkan paparan racun udara pagi hari. Di Pontianak, jarak pandang kendaraan dilaporkan merosot hingga 200 meter, memaksa para pekerja luar ruang beraktivitas dengan masker di tengah mata yang perih.
Di lapangan, upaya pemadaman menghadapi kendala struktural di atas 4,5 juta hektare hamparan lahan gambut. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengungkapkan bahwa penurunan muka air tanah hingga 90 sentimeter membuat gambut sangat kering dan rentan terbakar hingga ke lapisan dalam. Pemadaman harus mengandalkan teknik suntik gambut yang membutuhkan peralatan bor dan pompa berat di lokasi minim air.
Sementara itu, sorotan tajam mengarah pada aspek mitigasi dan penegakan hukum. Analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat, dari total 34.262 titik panas yang terdeteksi di Kalimantan sepanjang Januari hingga Juli, sekitar 74 persen di antaranya berada di dalam konsesi korporasi.
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Priyono Suryanto, menilai penanganan karhutla nasional masih terjebak dalam paradoks respons reaktif. Menurutnya, pemerintah sigap saat memadamkan kobaran api, namun abai dalam membangun sistem mitigasi dan penjagaan lingkungan yang berkelanjutan. Tanpa pembenahan di tingkat hulu dan ketegasan hukum, siklus kabut asap dipastikan akan terus berulang membebani masyarakat.

0 comments:
Post a Comment