BASKOM ONLINE| 8 MARET 2026| AGHA KHANUM SAIFULLAH
Tanggal 8 Maret
diperingati sebagai Hari Perempuan atau Women’s Day, hari yang dijadikan
sebagai pengingat atas perjuangan perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya.
Hari Perempuan Sedunia ini bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan menjadi
bukti pencapaian sekaligus mendorong langkah nyata menuju kesetaraan.
Dalam SDGs (Sustainable
Development Goals) yang diusung PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menjadikan
isu kesetaraan gender sebagai salah satu tujuan pembangunannya. Pada Januari
2025, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa dunia harus
melawan ketimpangan dengan memperluas peluang bagi perempuan dan anak
perempuan.
Hari perempuan atau
Women’s Day ini bermula pada Februari 1909 di Amerika. Setahun kemudian, di
Kopenhagen, aktivis hak perempuan Clara Zetkin mengusulkan adanya hari
internasional untuk memperjuangkan kesetaraan hak. International Women’s Day
pertama kali diperingati pada Maret 1911, dan sejak 1913 tanggal 8 Maret
ditetapkan secara resmi.
PBB mulai merayakan hari
ini pada 1975, lalu pada 1996 menetapkan tema tahun pertama, yaitu “Merayakan
Masa Lalu, Merencanakan Masa Depan”. Dan pada peringatan yang ke-seratus pada tahun
2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali menegaskan pentingnya bulan
Maret sebagai Women’s History Month.
Setelah mengetahui
sejarah tentang Hari Perempuan, sekarang kita akan kembali pada realita tentang
kesetaraan gender yang selalu perempuan dunia perjuangkan. UN Women (United
Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women) bersama Departemen
Urusan Ekonomi dan Sosial PBB merilis laporan Gender Snapshot 2024 yang
menunjukkan bahwa belum satu pun indikator SDGs tentang kesetaraan gender benar-benar
tercapai.
Sebanyak 97% negara
memang sudah menutup lebih dari 60% kesenjangan, dibandingkan 85% pada 2006.
Namun, kesenjangan terbesar tetap ada di bidang politik dengan angka penutupan
hanya 22,8%, dan diperkirakan membutuhkan 169 tahun untuk menutupnya. Jadi,
kalau kamu merasa perjuangan ini masih panjang, memang datanya juga menunjukkan
demikian.
Upaya utama yang dapat
kita lakukan untuk menutup kesenjangan ini adalah memahami bahwa semua manusia
layak diperlakukan adil. Dibutukan pendidikan, kolaborasi, dan kemajuan
sistematis dari semua pihak untuk menghapus stigma perbedaan antar gender.
International Woman’s Day
bukan sekedar momen untuk mengunggah kutipan inspiratif, namun ini adalah
pengingat bahwa kesetaraan gender membutuhkan konsistensi, kebijakan nyata, dan
dukungan lintas generasi.
Momentum ini menjadi
pengingat bahwa perempuan memiliki peran penting dalam berbagai bidang
kehidupan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat. Oleh
karena itu, dukungan terhadap kesetaraan dan perlindungan hak perempuan perlu
terus diperkuat demi terciptanya kehidupan sosial yang lebih adil dan setara
bagi semua.
No comments:
Post a Comment